Blogger Widgets

review frozen

Friday, 7 March 2014

mungkin alur ceritanya biasa - biasa aja, tapi idenya yang berbeda.
dari setiap kartun kerajaan yang pernah kutonton, kalau putrinya kena kutukan maka akan ada sang pangeran berkuda yang akan menolongnya. (halah bulshit -_-)

nah, dicerita ini, malah kekuatan cinta kakak -beradiklah yang dapat menghangatkan salju.
jadi ceritanya elsa (kakak) punya kekuatan es yang selalu disembunyikannya dari kecil, yang tahu kekuatan itu hanya dia dan kedua orangtuanya. lalu saat hari penobatan elsa tidak sengaja mengeluarkan kekuatannya. ia tidak mau menyakiti adiknya anna, lantas kabur ke gunung salju.
anna bukannya takut malah khawatir dengan kakaknya dan pergi menjemput di gunung es.

jarang - jarang loh, cerita kartun kerajaan tentang kisah kasih sayang antara kakak beradik. yang ada malahan biasanya kakak ngerebut pacar adiknya --_--, atau adik tirinya bunuh kakaknya, atau malah kakaknya adu domba adikny heleh , macet...

makanya ku suka sekali film ini. :) soalnya aku sayang sama kakakku. kalau liat film ini ingat kakakku deh.. ^-^



monggo dilirik

                                              ALHAMDULILLAH
   
                


14 Februari 2001
 Diary
Hari ini kamu tahu, kan? Hari ini adalah hari valentine, hari dimana banyak orang berbagi kasih sayang. Tapi sebenarnya aku kurang setuju, sih. Soalnya kita harus berbagi kasih sayang setiap hari, jangan hanya di hari valentine. Kamu setuju juga, kan? Oya, diary, tadi ada cowok yang mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku senang sekali. Dia memberiku coklat dan permen manis.
            Kasih sayang ? Apa itu kasih sayang ? Sejenis makanan atau minuman?  Berbagi kasih sayang? Kasih sayang itu enak, ya ? Aku belum pernah mencicipnya. Aku ingin membelinya, sepertinya gadis ini sangat senang mendapatkan kasih sayang. Mengungkapkan perasaan ? Apakah perasaan hendak membunuhnya ? Tapi mengapa gadis ini senang, dan lelaki itu juga memberinya coklat? Seumur hidup aku belum pernah diberi coklat oleh seseorang. Dulu aku mendapatkan coklat dari hasil kerjaku di pabrik nuklir kota ini selama 1 hari penuh. Bodoh sekali lelaki itu dengan Cuma – Cuma memberikan coklat pada gadis ini. Mungkin coklat itu adalah perangkap untuk gadis tersebut. Anak bodoh !

4 Juni 2001
Dear diary
Hari ini aku pergi ke dokter gigi untuk mencabut taringku yang terlalu panjang. Aku kesal diary, dari dulu aku diejek oleh teman – temanku karena gigiku yang seperti drakula ini. Tapi syukurlah, sekarang sudah beres. Tadi sebelum dicabut, gusiku disuntik terlebih dahulu sebanyak 3 kali. Kata dokter agar gigiku tidak sakit saat dicabut. Apalagi sekarang aku sudah 14 tahun, jadi dosis obat biusnya harus lebih banyak. Setelah dicabut, aku diberi segelas air untuk kumur – kumur. Tadi, hampir saja aku lupa untuk membuang air itu, aku hampir menelannya.
            Dokter gigi? Dokter gigi tidaklah bertugas mencabut gigi. Dulu dokter gigi bertugas memasang gigi palsu, dan sekarang di kotaku tidak ada dokter gigi. Daripada menjadi dokter gigi, pasti mereka berpikir lebih baik mencari makan untuk bertahan tetap hidup sampai esok hari. Untuk apa dia mencabut gigi pada usia 14 tahun ? Hal yang kuingat, aku terakhir kali punya gigi asli adalah saat aku berumur 12 tahun. Gigi asli memang tidak tahan, mudah bolong dan mudah patah. Sangat tidak efektif untuk mengunyah daging. Bukankah lebih baik jika menggantinya dengan gigi palsu dari logam, lebih tahan, lebih kuat dan yang terpenting tidak perlu digosok. Membuang air ? Bodoh sekali dia. Kalau aku tentu langsung kuminum tanpa pikir – pikir. Untuk menemukan air saja sangat susah, dia dengan mudahnya membuang air. Anak bodoh !

7 September2001
Diary !
Hari ini rumahku kebanjiran. Itulah resiko kalau kita tinggal di rumah dekat sungai. Kalau musim hujan, air akan melimpah dan rumah kita kena banjir. Tadi banyak anak – anak tetangga malah berenang di air banjir, padahal kan airnya kotor. Tapi kalau begitu, pasti untung bagi dokter kulit. Mengobati orang – orang yang kulitnya gatal – gatal terkena air kotor, aku mau menjadi dokter kulit saat aku dewasa nanti.
            Banjir ? Apa lagi ini ? Apakah banjir adalah air yang banyak ? Jika ia, tolong kirim ke rumahku. Jangan diberikan ke kotaku karena pasti akan dicuri. Musim hujan ? Yang kutahu musim hujan hanya terjadi di negeri – negeri dongeng. Ada satu cerita yang sangat kusenangi saat aku berumur 4 tahun, cerita dongeng “ Putri dan Pangeran Katak “ yang menceritakan negeri tersebut selalu dihujani air setiap saat. Aku berharap dapat bertemu hujan sesering itu, dan melihat katak seperti putri tersebut. Tak penting katak itu pangeran atau tidak, orang yang dapat melihat katak adalah termasuk orang yang sangat beruntung. Makhluk air sudah sangat langka di kota ini, banyak yang sudah punah.        
Lembaran – lembaran diary gadis ini penuh dengan kisah – kisah mustahil. Apakah ini sebuah buku dongeng yang dibuat iseng oleh seorang gadis 14 tahun ? Kusimpan rapi – rapi buku diary dengan tulisan “ Jangan dibuka, diary Ratih “ pada sampul depan berwarna merah pekat yang sudah mulai pudar dimakan usia. Ujung – ujung lembaran yang rapuh menjadi saksi bisu sejarah kehidupan gadis bernama “ Ratih “.
Kucoba menghisap udara panjang – panjang. Jumlah oksigen di atmosfir sekarang tidak lebih dari 10 %, jadi sepanjang apapun nafas yang kuhirup tidak akan pernah memuaskan paru – paru.
***
“ Yoko ! Mengapa kamu terlambat ? “ Aduh, bagaimana ini ? Aku terlambat 15 detik, jangan – jangan atasanku akan mengurangi jatah air bersihku. Ah, jatah air bersihku tahun lalupun ia potong tanpa alasan. Atasanku selalu saja ada alasan untuk mengurangi jatah air bersih pegawainya. Aku ingat sekali saat ada salah satu rekanku dipotong jatah air bersihnya, padahal dia sangat loyal di pabrik. Sertifikat lulusan S3 terbaiknya di salah satu universitas terbaik di Indonesia tidak dipikirkan saat pemotongan jatah tersebut. Apapun akan dilakukan bosku untuk mendapatkan keuntungan sebesar – besarnya.
“ Maaf, Pak. Tadi saya pergi ke bank air untuk mengambil persediaan air. “ Tidak, aku bahkan tidak punya stok di bank air sama sekali.
“ Ah, banyak alasan ! Jatah tahunan kamu dipotong setengah liter !” kalimat singkat mengakhiri dialog panas kami berdua. Pabrik ini termasuk pabrik yang paling banyak diinginkan ilmuwan sepertiku untuk bekerja. Sedikit dari sekian pabrik di kota ini yang mau memberikan jatah air bersih, biasanya kami harus membelinya. Atas dasar ini, aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku kembali bekerja.
Di dalam pabrik, seluruh rekanku memandang sinis. Mereka turut marah atas keterlambatanku, yang mengakibatkan pekerjaan mereka bertambah. Dulu, seluruh pekerjaan dikerjakan oleh robot bertenaga baterai, listrik, dan surya. Namun sekarang semenjak minyak bumi semakin langka, pabrik – pabrik kembali menggunakan jasa dan tenaga manusia. Sistem perekrutan sangat ketat, para pekerja di pabrik ini adalah ilmuwan terkemuka dan merupakan lulusan terbaik di universitasnya. Ya, kami para ilmuwan terbaik hanya menjadi buruh di pabrik ini.
Aku pun salah satu lulusan terbaik Universitas Cendekia, dengan IP sempurna 4,00. Dengan mudah kutuliskan thesisku dalam batu tulis. Kertas ? Kalian pikir kami memakai kertas ? kertas terakhir kali dipakai 60 tahun lalu. Kini seluruh pohon digunakan sebagai bahan baku pelindung kulit dari radiasi sinar ultra violet. Pohon tersebut diambil sarinya, dan akan dibuat dalam betuk krim.
Lulus S2 pada usia 17 tahun tidak menjamin kehidupanku di abad 24. Para mahasiswa lulusan S1 hanya akan menjadi penjahat manusia, pencopet, maling, pembunuh. Pelecehan seksual ? Di zaman ini tidak ada, kita tidak perlu memaksa wanita untuk melakukan tindakan asusila tersebut, karena wanita di zaman ini tidaklah ada harganya sama sekali. Malah mereka yang akan memohon – mohon pada lelaki yang jumlahnya kini hanya sedikit.
Dengan gaji 3,5 liter minyak bumi per bulannya, kami harus bisa mencukupkan kebutuhan kami. Di tahun 2367, bukan orang pintar yang dapat menguasai dunia. Melainkan orang yang memegang banyak benda langka, yaitu yang paling banyak memiliki air bersih, minyak bumi, oksigen kalengan, dan daging. Jika tidak, kamu harus lebih kuat dari yang lain untuk merebut apa yang ia punya, hukum rimba berlaku “ yang terkuat, bertahan.”
Setelah 16 jam yang melelahkan, aku pulang kembali ke rumah. Bukan rumah sesungguhnya, hanya sebuah kotak berisi tempat tidur yang biasa kami sebut sleepbox. Kudayung sepeda tua hasil aku menabung gaji bertahun – tahun lamanya. Berjalan mengitari jalan aspal yang mulai menipis seiring sulitnya minyak bumi ditemukan.
Di tengah perjalanan aku dihadang oleh 3 gadis muda bertubuh kurus dan kusut. Dengan tatapan iba mereka datang menghampiriku perlahan. Seketika aku takut dan memacu sepeda sekencang – kencangnya, tak urung mereka pun ikut berlari. Aku takut mereka lebih marah dan membunuhku, akhirnya kuputuskan untuk berhenti dan berdialog sejenak.
“ Ada apa ? Saya tidak punya apa – apa untuk diberi. Saya tidak punya apa – apa untuk dicuri. Daging tubuh saya pun sedikit, jadi rugi bagi anda untuk membunuh saya. “ tak ragu – ragu kudeskripsikan kekuranganku. Mereka tidak berekspresi, tampaknya mereka tidak terlalu mendengar apa yang kujelaskan.
“ Tidak. Tidak perlu kau serahkan dagingmu, cukup kau hamili saja kami bertiga dan kau akan bebas. ” gadis yang sepertinya paling tua diantara mereka memulai perbincangan.
“ Ya, kami ingin kau menghamili kami. Agar bayi yang kami lahirkan nanti dapat kami makan.” Gadis kedua meneruskan.
“ Kami tidak tahu mencari daging dimana lagi. Apalagi tumbuhan, kalau ada rumput pun akan kami makan.” Gadis ketiga tampaknya tidak bersahabat, ia mendorong stang sepedaku ke arah kiri hingga ia dapat lebih dekat denganku.
“ Tidak, aku tidak mau. Kalian cari saja laki – laki yang lain. Aku mau tidur, besok aku bekerja.” Kuhardik mereka terang – terangan, namun seperti yang sudah kujelaskan tadi mereka kini tidaklah memiliki harga sama sekali. Mereka tidak peduli mereka dilecehkan atau tidak, yang penting mereka bertahan hidup. Walaupun hidup dengan memakan bayi mereka sendiri.  Tatapan mereka yang semula kosong semu tanpa ekspresi kini berubah menjadi tajam dan penuh benci. Aku sudah hafal dengan perilaku wanita zaman kini, jika keinginan mereka tidak dipenuhi, maka ia akan membunuh mangsa mereka tersebut untuk diambil dagingnya. Kupacu sepeda sekencang – kencangnya hingga salah seorang dari gadis tersebut jatuh kudorong. Belum sempat sampai di rumah, aku melihat lagi peristiwa “zaman kini” lainnya. Seorang nenek memotong leher cucu perempuannya untuk diminum darahnya. Aku tidak ingin melihatnya, bukan karena takut. Pembantaian manusia sudah merupakan tontonan biasa saat ini, namun aku benar – benar mengantuk dan ingin tidur.
Kututup sleepbox perlahan, dan kuraih kembali buku harian kuno yang kucuri 3 hari lalu dari museum. Kucari halaman yang terakhir kubaca.

20 Desember 2001
Dear diary
Tadi teman sekelasku mengajak pergi ke sawah di belakang sekolah. Aku pulang terlambat ke rumah, dan bajuku kotor oleh lumpur. Seperti yang kuduga, ibuku pasti marah saat aku pulang dalam keadaan begini. Lagi – lagi hari ini aku kesal. Ibu, mengapa ibu selalu marah – marah? Aku tidak mau makan sayur saja, ibu sudah marah – marah. Ibu bilang aku seperti anak – anak. Aku kan masih 14 tahun, jadi wajar saja kalau tingkahku masih seperti anak – anak.
            Jika hidup berdasar keinginan, aku ingin hidup di abad 21. Anak bukanlah sesuatu yang harus dibuang karena dianggap merepotkan. Anak bukanlah sesuatu yang sengaja kau lahirkan untuk kau makan. Anak ini tentu sangat bodoh, dia tidak mau makan sayur yang diberikan oleh ibunya dengan percuma. Jangankan sayur, rumput segar pun aku mau jika diberi secara gratis.
Cepat – cepat kututup buku itu dan kugosokkan perlahan spon ke tubuhku agar seluruh kotoran keluar. Mandi ? kalian pikir kami mandi ? Mandi adalah sesuatu tindakan kriminal disini, karena menghamburkan air. Bagi siapa yang menghamburkan air, akan langsung dikenakan hukuman. Tapi kalian tak perlu repot – repot membaca buku hukum, karena jika kalian hidup di zaman ini, kalian akan tahu betapa berharganya air.
Hani menyudahi cerpennya sembari merenung.
“ Ah, seandainya aku menjadi Yoko dan hidup di zamannya, aku pasti bunuh diri. Aku tidak sanggup tinggal di bumi yang berisi manusia dengan rata – rata usia hidup 20 tahun itu. Alhamdulillah aku hidup di tahun 2012 yang sumber daya alamnya masih dapat mencukupi kebutuhanku.” Hani berkata dalam hati. Cerpennya masih belum rampung, hanya ¾ bagian yang ia selesaikan hari ini.
Hani mengambil secarik kertas lusuh dan menitikkan beberapa tetes tinta :
Aku bersyukur hidup di masa air masih bisa didapat, cukup memutar keran air saja.
Aku bersyukur hidup di masa minyak masih bisa didapat, cukup pergi ke pangkalan minyak saja.
Aku bersyukur masih hidup dimana menu makanan bukanlah sekedar daging mentah, cukup meminta pada ibu saja.
Aku bersyukur membuat cerpen ini, membuatku sadar akan kehidupan manusia kelak.

Hani beranjak dari kursi tua yang meninggalkan derik kecil saat duduk diatasnya. Seketika ia berjalan ke kamar, menutup semua keran air dan mematikan semua lampu.

Kumau yang Kuinginkan


oke, maaf, ini cerpen masih ababil banget -,-




“Bruakk!”  buku bersampul biru itu dilempar hingga ke ujung pintu. Buku yang berisi perjuangan para siswa yang didapat tiap semester itu ternyata tidak memuaskan ibuku. Nilai 79 pada mata pelajaran biologi menaikkan darahnya, dan membuat seisi rumah hingar – bingar.
“Apa ini? Masa’ nilai biologi tujuh, bodoh!”. Tidak merah memang, namun cukup untuk memanaskan suhu ibu dan membuatnya mengeluarkan kata – kata yang tidak berkasih itu.
“Ibu lihat dulu nilai fisikanya!” belaku. Sedikit iba melihat angka 97 yang diabaikan ibu. Kasihan Kartini yang bersusah payah memperjuangkan emansipasi  wanita. Ternyata perjuangannya yang membuahkan kontroversial dikalangan rakyat itu tidak dihargai ibuku. Aku tahu alasannya, namun ia mencoba menutup – nutupi.
“Kamu tuh cewek, tidak pantas untuk bekerja dibidang fisika. Perempuan itu baiknya menjadi dokter. Hilangkanlah pikiranmu untuk menjadi pakar fisika itu! Kamu sebentar lagi lulus, jadi sudah sepantasnya memikirkan masa depanmu!” bentakan keras itu masih terdengar syahdu di telinga. Aku sadar, dia yang sudah kehilangan kekencangan kulit itu haruslah dituruti pintanya. Belum lagi jika diingat perjuangannya membesarkan aku dan adikku tanpa ayah.
Bukan salah ayah yang meninggalkan kami bertiga hidup dalam kelam dunia. Dia hanya ceroboh dalam bekerja, hingga mengundang malaikat Izrail menunaikan tugasnya. Ya, dia memang ayahku, yang menuruni gen fisika-nya.
“Pokoknya kamu harus masuk fakultas kedokteran!” ibu memaksa dan tidak memberikan pilihan lain bagiku. Aku terpojok, dan mencoba memahami keinginan ibu yang sesungguhnya, yaitu tidak ingin aku berakhir seperti ayah.
Semester 2 kujalani dengan ikhlas dan berserah diri, mencoba memahami maksud tersembunyi dari hati dan naluri seorang ibu. Seorang ibu selalu menginginkan yang terbaik bagi anak – anaknya. Aku ingat, betapa ibu rela membelikan kami baju baru pada hari raya, walaupun ia mengenakan pakaian yang sobek pada lengan kanannya. Dan membiarkan kami makan terlebih dahulu sedangkan ia melahap sisa – sisanya. Seperti cerita – cerita dalam film di televisi, dimana keluarga yang ditinggalkan kepala keluarganya jatuh miskin dan ibunya harus bersusah payah untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
aUAN menunggu di 3 bulan ke depan. Aku cemas, takut jika tidak dapat memenuhi keinginan ibu. Kuurungkan tiap mimpi yang berhubungan dengan rahasia sifat – sifat benda itu, dan kuganti dengan bayangan – bayangan indah menangani pasien, dan memperbaiki letak anggota tubuh manusia pada yang seharusnya.

***
Pagi – pagi sekali, aku bersama 3 orang temanku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Aku yakin ini bukan panggilan atas nama hukuman, karena wajah ramah Ibu Rahimah pagi ini tidak membuatku berpikiran negatif.
“ Khoir, Hasan, Husna...” suara Pak Muslim yang berat mengawali perbincangan hangat kami pagi ini. Mula – mula ia bertanya mengenai cita – cita kami masing – masing, lalu memberi kami motivasi yang cukup tinggi. Aku salut, dalam usianya  yang sudah menghasilkan uban itu, ia masih berdedikasi tinggi. Tak heran, sekolah kami langsung mencuat dan diketahui keberadaannya sejak kepemimpinan Pak Muslim.
Dalam perbincangan singkat itu, Pak Muslim memberitahu bahwa masing – masing dari kami sudah menerima undangan dari universitas negeri. Hasan diterima di IPB, Husna di Unand, dan aku diterima di ITB, STEI
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku tidak tahu siapa yang membuat pepatah itu, yang jelas jika aku bertemu dia aku akan berterimakasih karena telah menemukan kalimat yang tepat bagi perasaanku saat ini. Seketika perasaan meluap berbunga terganti dengan perasaan bimbang tingkat tinggi. Aku tak sanggup memberi tahu ibu. Menghadapi kenyataan bahwa ibuku seorang penjahit tua yang sudah mulai tertarik kulitnya oleh gravitasi. Persaingan pasar tak dapat dimenangkannya, karena keterbatasan modal dan tenaga. Dan satu –satunya kebahagiaan baginya adlah dengan aku menjadi dokter.
Ku jeruji dalam – dalam impianku dan mencoba membuka buku campbell jilid 2 pinjaman perpustakan kota.
***
Pensil, penghapus, dan beberapa instrument belajar lainnya merupakan alat perang yang membantu dalam Ujian Nasional ku kali ini. Memulainya dengan basmalah merupakan keseharian yang tidak boleh ditinggalkan, karena sesuatu tanpa ridho Allah akan berakhir dengan tidak menyenangkan.
***
Sudah kukatakan, namun ibu kukuh dengan jawabannya.
“Tidak. Kamu, kan sudah tahu jawaban ibu! Kamu harus bisa masuk fakultas kedokteran. Ibu akan berusaha mencari uang untukmu.”
“Bu, tapi Maul harus masuk SMP, Bu. Dengan masuk universitas itu, Khoir akan meringankan beban Ibu.” Aku masih mencoba berkilah dan menjelaskan sisi positif argumenku. Perdebatan berakhir dengan kekalahanku.
Aku lulus, UAN berakhir dan aku puas. Tekad ibu untuk memasukkanku ke fakultas kedokteran tak tanggung – tanggung. Ia rela menggadaikan anting untuk mendapat biaya bagi tes “fakultas kedokteranku”. Berkali – kali tes kujalani, dan aku menangis mendapati nasibku. Masyarakat berekonomi rendah bagai tidak diberi kesempatan untuk bersekolah, dengan biaya masuk ratusan juta ibuku menyerah. Ibu memberi kesempatan bagiku menempuh jalan yang kuinginkan.
“ibu, bertahun – tahun Khoir menanti ini, menanti ibu merestui keinginan Khoir” aku sedu terharu. Bukan, ibu bukan mengizinkan, hanya membiarkanku merasakan bangku kuliah. Tapi tak apa, itu cukup.
***
Disini aku sekolah, ITB, universitas terkemuka di Indonesia. Aku bangga dan tak kupungkiri bahwa ini sangat kunikmati
Sehari – hari aku bekerja paruh waktu di sebuah toko elektronik. Tentunya aku merahasiakan dari ibuku, dengan mengatakan aku bekerja di sebuah rumah makan padang.
Inilah dunia yang kugeluti sekarang, membahagiakan sungguh karena datang dari hati. Tak ada lagi yang memaksaku membaca buku campbell yang bahkan membuat minusku bertambah.
***
Sebentar lagi penyusunan skripsi, aku menelepon ibuku untuk mengobati rasa rindu yang kudera selama beberapa bulan ini. Dari sini, ku tekan  tombol – tombol berisi angka – angka penuh harap itu.
Selama beberapa waktu, dari seberang sana seorang ibu – ibu yang kutahu bukan ibuku menjawab teleponku.
“Loh, mbak Khoir tidak tahu, ya? Ibu sudah 2 bulan ini gak bisa jalan, stroke” sontak aku kaget dan buru – buru meminta ibu itu untuk menghubungkan kepada ibuku.
“Sudah ibu bilang dulu, kamu jadi dokter aja, biar bisa ngobatin ibu. Kamu tidak serius belajarnya, sampai gak dapat beasiswa di kedokteran. Sekarang kamu bisa apa? Bisa ngobatin ibu?” ringkih ibu mengadu, aku terkikis, remuk hati rasanya.
Aku tidak bisa konsentrasi memikirkan cara untuk dapat membantu ibu. Skripsiku selesai, aku pulang ke rumah setelah melewati sidang – sidang yang melelahkan.
***
Ku buka pintu reot perlahan dan menghasilkan derik – derik kecil mengerikan.
“Bu, selama beberapa bulan ini Khoir sedang menyelesaikan skripsi, dan bulan depan Khoir wisuda. Ibu datang, ya? Nanti ongkosnya Khoir siapin.”
“Ya,” jawaban singkat ibu melonggarkan ketegangan dadaku yang sempat turun naik tak berirama.



Tiba di hari itu, hari dimana aku mengenakan toga, dan mendengar ceramah berjam – jam lamanya dalam ruangan ber AC. Ibu mengiringiku, dia turut membawa adikku yang kini duduk di bangku SMA. Dia mengenakan pakaian terbaiknya dan duduk di kursi roda tua, yang ia beli di pasar loakan. Setelah ini, aku tak bingung melanjutkan pendidikanku, karena sesungguhnya aku sudah mendapat tawaran untuk mengenyam pendidikan lanjutan di Nanyang University, Singapore. Dan aku masih ragu karena ibuku masih bersikeras terhadap prinsipnya itu.
*Beberapa tahun kemudian*
Tiba saat dimana aku dipanggil dengan nilai lulusan kedua terbaik, semua hadirin bertepuk tangan. Aku menyelesaikan skripsiku, sekaligus penemuanku yang pertama, kursi roda dengan pengendalian pikiran.
“Semua untuk ibu, untuk membantu meringankan kesusahannya. Aku menciptakan ini saat memikirkan ibu.” Sepotong kata yang keluar dari mulutku ini rasanya cukup untuk melepas bendungan waduk air mata ibu. Ia terharu. Aku mengajaknya ke panggung dan mencoba alat tersebut, ya, ia bahagia.
Aku tak perlu menjadi dokter agar ia bahagia.

Ini yang kuinginkan, menjalani apa yang kusenangi tanpa mengecewakan orang yang kusayang. Allah telah menyiapkan segalanya.

page recommend

oke, aku kali ini mau kasih tau sobat, salah satu page di fb yang sangat menginspirasi ..

DIY Home Decorating.... (https://www.facebook.com/diycozyhome)

Disana banyak sekali cara - cara memanfaatkan barang bekas, membuat suatu karya baru yang luar biasa hanya dari bahan yang biasa, desain interior yang efektif, furniture, sampe dekorasi makanan atau kue yang keren... ^,^ okepunyaaa
 ini beberapa poto nya.. monggo diliat liat


                                           yang ini pemanfaatan barang bekas....



                                                  ini juga


                                              nah yang ini, buat nya dari bahan biasa




 oke cukup sekian dulu yaa, kalau mau keterangan lebih lanjut, klik aja linknya ocre??

sosok

Hai sobat inspirator... kali ini aku mau ngomongin tentang sosok yang sudah menginspirasi aku.
A woman, a mommy, a lady.... here she is.. jeng jeng jeng. RENNY SUTIYOSO ^,^


Ceritanya gini. waktu itu aku lagi ngalor - ngidul di instagram. aku kepo in artis - artis. Tiba - tiba muncullah mbak Renny ini. Yaudah aku buka - bukain tuh foto - fotonya.
follow aja rennysutiyoso di IG, pasti kalian akan merasakan hal yang sama.
dia banyak ikut kegiatan sosial nih sob. kelebihannya kalau liat IG mbak renny
1. jiwa sosial muncul (dia ikut donor darah and donor ASI !! :O WOW) ASI nya aja ampe sekulkas penuh sob, keren ..
2. bakalan berpikir buat ganti lifestyle kita menjadi yang lebih sehat. dia selalu ngepost poto - poto jus-jus buah & sayur, makanan organik, sayur, buah, ampe ulat bulu yang ada di sayur pun juga di post :D
3. tau tentang makanan - makanan organik ya, kirain gak ada yang jual.
4. bisa belajar pilates (mungkin) :D hahha, mbak ren sering ngepost poto dia lg nge-pilates
5. many more. liat aja ndiri :p

oke cukup sekian dulu ya sob. apa sobat punya sosok inspirator juga?

cerpen :3

Sobat inspirator, kali ini aku mau ngepost sebuah cerpen yang sempat aku buat pas aku masih kelas 1. cekidot sobat ...

                                                      DIA DISINI


Ini sudah yang kesekian kalinya aku mengikutkan Olin pada permasalahanku. Disini, di SMAN 3 Jambi, hukum amat ditegakkan. Kami akan menghadapi suatu sidang yang merepotkan jika melanggarnya. Sebagai murid kelas X, aku bersikap layaknya anak baik dan polos yang tidak memberontak, kuikuti setiap butir – butir peraturan yang ada. Aku tidak ingin masuk ke sebuah ruangan 2X3 dan menghadapi tatapan – tatapan sinis para guru serta hujan pertanyaan yang berusaha menyudutkanku. Masih banyak hal yang harus ditakutkan disini, itu hanya sebagian kecil. Untuk alasan itu, Rendi, kakak kelasku yang sekarang sedang menghadapi ujian akhir sekolah, selalu meminta bantuanku untuk menyampaikan pesan – pesannya pada Rina, teman sekelasku. Agaknya ia khawatir jika menyampaikannya sendiri.
Rina anak yang baik, ia tidak mau memenuhi permintaan kak Rendi untuk bertemu di belakang kelasnya. Ia selalu berusaha menolak permintaan kak Rendi dengan halus agar kak Rendi tidak tersinggung. Oleh sebab itulah, aku menyukainya sejak 3 bulan pertama kami disini. Rina tidak membiarkan temannya menangis, dan selalu menyemangati teman – teman yang putus asa karena nilai ulangan yang kurang bagus. Rina yang seperti itu adalah sosok impianku, ia membagi pikiranku menjadi dua saat belajar kimia, yang bahkan itu adalah pelajaran yang paling kusuka. Aku tidak dapat lari dari hipnotis matanya yang bulat bersinar, kubiarkan diriku hanyut. Namun di sisi lain, aku berjanji pada kak Rendi untuk selalu memberitahu mengenai kabar Rina dan menjaga Rina untuknya.
Pernah suatu ketika, Rina sakit dan pergi ke poliklinik. Sebagai pembawa berita, aku berkewajiban untuk mengabari hal ini ke kak Rendi, namun aku tidak rela. Aku tidak sanggup membiarkan pujaan hatiku berdua dengan lelaki lain. Itu sama halnya dengan menaruh racun kedalam minumanku. Akhirnya kuputuskan untuk tidak memberitahu hal ini ke kak Rendi. Namun berita mengenai Rina amat mudah ia dapatkan, dan dari seberang jendela poliklinik yang dibiarkan terbuka agar udara bebas keluar – masuk, kudapati mereka berdua tengah mengobrol. Rina tampak cemas, takut jika ketahuan guru, dan kak Rendi berdiri di pintu dengan muka menenangkan. Kakiku lemas seketika, namun tetap kucoba berjalan ke kelas dengan sempurna.
Ulangan biologi kali ini terasa tak berharga bagiku, kujawab seadanya. Perjuanganku tadi malam dengan dua cangkir kopi terasa tidak ada manfaat sama sekali. Benar apa yang dikatakan Rasulullah, bahwa wanita termasuk cobaan terberat di dunia. Hanya dengan pertemuan kak Rendi – Rina, cukup untuk memecah pikiran dan menghilangkan memoriku mengenai kingdom animalia. Aku sungguh merasakan apa yang dirasakan Bondan Prakoso saat menciptakan lagu “Bunga”. Ini luka yang tidak berwujud namun membekas.
Bel singkat menandakan berakhirnya pertarungan kami dengan dunia hewan. Kuserahkan kertas dengan berat, dan beban kakiku bertambah 5 pon. Kutelusuri koridor sekolah sepanjang istirahat tadi, tampak kak Rendi sedang mempersiapkan diri untuk ujian berikutnya. Dia bukanlah orang yang tidak baik, ia tidak pernah meriwayatkan dirinya dengan desas – desus negatif.
Kepulanganku disambut dengan semangkuk sayur bayam hangat dan segelas teh buatan ibuku. Ibu adalah perempuan yang baik dan ramah, yang dapat menaklukannya pastilah orang hebat. Aku tak sabar ingin bertemu ayah malam ini, untuk menanyakan tips – tipsnya. Namun, sehabis belajar malam, mataku tak dapat diajak berteman. Kuputuskan untuk rehat malam dan kuundur dulu keinginanku untuk mewawancarai ayah.
***
Paginya, aku melihat hasil ulangan biologi yang ditempel di papan pengumuman. Aku tidak terkejut melihat spidol merah pada nilaiku. Bukan hal pertama nilai 68 kudapatkan. Karena nilai geografiku kemarin bahkan tidak menembus angka 50. Duniaku benar kacau semenjak kehadiran cinta. Terkadang aku merindukan masa – masa dimana aku bermain patok lele bersama Olin dan teman – temanku yang lain. Namun kini dunia terasa berbeda, cinta tidak dapat dihentikan karena cinta adalah naluri alamiah manusia sebagai makhluk Allah yang saling berbagi kasih sayang.
“Olin, aku boleh cerita lagi, gak?” pertemuanku dengan Olin di depan kantin tidak kusia – siakan. Dan aku sempat iri pada Olin yang belum pernah merasakan cinta, ia masih seperti anak SMP yang suka bermain patok lele.
“Oh... Pasti tentang Rina lagi, kan? Kenapa? Eh, mau es jeruk, gak?” pertanyaan tanpa jeda itu menjadi suatu kebiasaan baginya. Tanpa berbasa – basi kulontarkan niatku untuk menyatakan cinta pada Rina. Dia menyetujui dan mencari tips mengenai ini di internet dan membagi padaku. Kami sepakat agar aku melakukannya minggu depan.
***
Pada hari yang dimaksud, aku sudah menyiapkan mentalku matang – matang. Aku tidak berharap kami berpacaran, karena itu adalah sebuah pelanggaran tata tertib SMA ku. Namun aku hanya ingin dia mengetahui apa yang selama ini aku rasakan, kepedihanku saat ia bertemu kak Rendi. Sekarang aku ingin meminta pendapat Olin, namun ia sedang bermain basket di lapangan. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil kertas tips menyatakan cinta yang tiga hari lalu ia print. Kubuka kertas putih itu perlahan, ternyata itu bukan kertas yang kumaksud. Kertas putih itu bertuliskan :
Aku Disini
Cerita Putri Rinamu, kunai bagiku. Mengoyak jiwa perlahan.
Cerita cinta sebelah hatimu, racun bagiku. Lumpuhkan raga seiring waktu.
Tak ingin kau dapat racun dan kunai yang sama, kubiarkan kau bagi padaku.
Kini kau buta, tak dapat bedakan warna. Kuberi kau lentera.
            Ingin kau kutuntut di pengadilan cinta. Atas dosa menghilangkan logika.
            Aku korban yang kau sandera, namun kubahagia.
            Atas penyanderaan tanpa rencana, aku berterimakasih padamu.
            Kurasakan cinta pada 15 tahun umurku, Pandu...
Jantungku berdebar kencang, aku tersadar. Selama ini terlalu sibuk dengan urusan cintaku pada Rina, tanpa kuindahkan kehadiran Olin. Inderaku tidak peka, atas gelombang perasaan yang tulus ini.
            Aku berlari mencari Olin, aku tak sabar untuk segera meraihnya. Buru – buru aku menerobos pagar pembatas lapangan hingga tak sadar bahwa lenganku memar. Kudapati Olin tengah duduk di kursi kayu merenung sendiri, ternyata ia tidak bermain basket. Kuraih segera tangannya yang dingin.
            “Olin, maafkan aku. Aku biarkan kamu sakit sendiri. Bagilah kepedihanmu sedikit padaku.” mataku berkaca – kaca. Ia tampak masih belum mengerti.
            “Maafkan aku.” Untuk kesekian kalinya aku meminta maaf pada Olin. Pada kalimat terakhir ini, kulampiaskan dengan memeluknya. Sepertinya sangat lama, karena kami tidak sadar bahwa seorang guru telah berdiri di samping kami.
Akhirnya kami masuk ke ruangan 2X3 yang paling ditakuti itu. Tapi kali ini berbeda, kami memasukinya dengan wajah senyum malu – malu.  Dan kami mendapat ganjaran skors 3 hari atas perbuatan frontal kami.
The----^__^----End