ALHAMDULILLAH
14
Februari 2001
Diary
Hari
ini kamu tahu, kan? Hari ini adalah hari valentine, hari dimana banyak orang
berbagi kasih sayang. Tapi sebenarnya aku kurang setuju, sih. Soalnya kita
harus berbagi kasih sayang setiap hari, jangan hanya di hari valentine. Kamu
setuju juga, kan? Oya, diary, tadi ada cowok yang mengungkapkan perasaannya
kepadaku. Aku senang sekali. Dia memberiku coklat dan permen manis.
Kasih
sayang ? Apa itu kasih sayang ? Sejenis makanan atau minuman? Berbagi kasih sayang? Kasih sayang itu enak,
ya ? Aku belum pernah mencicipnya. Aku ingin membelinya, sepertinya gadis ini
sangat senang mendapatkan kasih sayang. Mengungkapkan perasaan ? Apakah
perasaan hendak membunuhnya ? Tapi mengapa gadis ini senang, dan lelaki itu
juga memberinya coklat? Seumur hidup aku belum pernah diberi coklat oleh
seseorang. Dulu aku mendapatkan coklat dari hasil kerjaku di pabrik nuklir kota
ini selama 1 hari penuh. Bodoh sekali lelaki itu dengan Cuma – Cuma memberikan
coklat pada gadis ini. Mungkin coklat itu adalah perangkap untuk gadis
tersebut. Anak bodoh !
4 Juni
2001
Dear
diary
Hari
ini aku pergi ke dokter gigi untuk mencabut taringku yang terlalu panjang. Aku
kesal diary, dari dulu aku diejek oleh teman – temanku karena gigiku yang seperti
drakula ini. Tapi syukurlah, sekarang sudah beres. Tadi sebelum dicabut, gusiku
disuntik terlebih dahulu sebanyak 3 kali. Kata dokter agar gigiku tidak sakit
saat dicabut. Apalagi sekarang aku sudah 14 tahun, jadi dosis obat biusnya
harus lebih banyak. Setelah dicabut, aku diberi segelas air untuk kumur –
kumur. Tadi, hampir saja aku lupa untuk membuang air itu, aku hampir menelannya.
Dokter
gigi? Dokter gigi tidaklah bertugas mencabut gigi. Dulu dokter gigi bertugas
memasang gigi palsu, dan sekarang di kotaku tidak ada dokter gigi. Daripada
menjadi dokter gigi, pasti mereka berpikir lebih baik mencari makan untuk
bertahan tetap hidup sampai esok hari. Untuk apa dia mencabut gigi pada usia 14
tahun ? Hal yang kuingat, aku terakhir kali punya gigi asli adalah saat aku
berumur 12 tahun. Gigi asli memang tidak tahan, mudah bolong dan mudah patah. Sangat
tidak efektif untuk mengunyah daging. Bukankah lebih baik jika menggantinya
dengan gigi palsu dari logam, lebih tahan, lebih kuat dan yang terpenting tidak
perlu digosok. Membuang air ? Bodoh sekali dia. Kalau aku tentu langsung kuminum
tanpa pikir – pikir. Untuk menemukan air saja sangat susah, dia dengan mudahnya
membuang air. Anak bodoh !
7 September2001
Diary
!
Hari
ini rumahku kebanjiran. Itulah resiko kalau kita tinggal di rumah dekat sungai.
Kalau musim hujan, air akan melimpah dan rumah kita kena banjir. Tadi banyak
anak – anak tetangga malah berenang di air banjir, padahal kan airnya kotor.
Tapi kalau begitu, pasti untung bagi dokter kulit. Mengobati orang – orang yang
kulitnya gatal – gatal terkena air kotor, aku mau menjadi dokter kulit saat aku
dewasa nanti.
Banjir
? Apa lagi ini ? Apakah banjir adalah air yang banyak ? Jika ia, tolong kirim
ke rumahku. Jangan diberikan ke kotaku karena pasti akan dicuri. Musim hujan ?
Yang kutahu musim hujan hanya terjadi di negeri – negeri dongeng. Ada satu
cerita yang sangat kusenangi saat aku berumur 4 tahun, cerita dongeng “ Putri
dan Pangeran Katak “ yang menceritakan negeri tersebut selalu dihujani air
setiap saat. Aku berharap dapat bertemu hujan sesering itu, dan melihat katak
seperti putri tersebut. Tak penting katak itu pangeran atau tidak, orang yang
dapat melihat katak adalah termasuk orang yang sangat beruntung. Makhluk air
sudah sangat langka di kota ini, banyak yang sudah punah.
Lembaran – lembaran diary
gadis ini penuh dengan kisah – kisah mustahil. Apakah ini sebuah buku dongeng
yang dibuat iseng oleh seorang gadis 14 tahun ? Kusimpan rapi – rapi buku diary
dengan tulisan “ Jangan dibuka, diary Ratih “ pada sampul depan berwarna merah
pekat yang sudah mulai pudar dimakan usia. Ujung – ujung lembaran yang rapuh
menjadi saksi bisu sejarah kehidupan gadis bernama “ Ratih “.
Kucoba menghisap udara
panjang – panjang. Jumlah oksigen di atmosfir sekarang tidak lebih dari 10 %, jadi
sepanjang apapun nafas yang kuhirup tidak akan pernah memuaskan paru – paru.
***
“ Yoko ! Mengapa kamu
terlambat ? “ Aduh, bagaimana ini ? Aku terlambat 15 detik, jangan – jangan
atasanku akan mengurangi jatah air bersihku. Ah, jatah air bersihku tahun
lalupun ia potong tanpa alasan. Atasanku selalu saja ada alasan untuk
mengurangi jatah air bersih pegawainya. Aku ingat sekali saat ada salah satu
rekanku dipotong jatah air bersihnya, padahal dia sangat loyal di pabrik.
Sertifikat lulusan S3 terbaiknya di salah satu universitas terbaik di Indonesia
tidak dipikirkan saat pemotongan jatah tersebut. Apapun akan dilakukan bosku
untuk mendapatkan keuntungan sebesar – besarnya.
“ Maaf, Pak. Tadi saya pergi
ke bank air untuk mengambil persediaan air. “ Tidak, aku bahkan tidak punya
stok di bank air sama sekali.
“ Ah, banyak alasan !
Jatah tahunan kamu dipotong setengah liter !” kalimat singkat mengakhiri dialog
panas kami berdua. Pabrik ini termasuk pabrik yang paling banyak diinginkan
ilmuwan sepertiku untuk bekerja. Sedikit dari sekian pabrik di kota ini yang mau
memberikan jatah air bersih, biasanya kami harus membelinya. Atas dasar ini, aku
tak bisa berbuat apa – apa. Aku kembali bekerja.
Di dalam pabrik, seluruh
rekanku memandang sinis. Mereka turut marah atas keterlambatanku, yang
mengakibatkan pekerjaan mereka bertambah. Dulu, seluruh pekerjaan dikerjakan
oleh robot bertenaga baterai, listrik, dan surya. Namun sekarang semenjak
minyak bumi semakin langka, pabrik – pabrik kembali menggunakan jasa dan tenaga
manusia. Sistem perekrutan sangat ketat, para pekerja di pabrik ini adalah
ilmuwan terkemuka dan merupakan lulusan terbaik di universitasnya. Ya, kami
para ilmuwan terbaik hanya menjadi buruh di pabrik ini.
Aku pun salah satu lulusan
terbaik Universitas Cendekia, dengan IP sempurna 4,00. Dengan mudah kutuliskan
thesisku dalam batu tulis. Kertas ? Kalian pikir kami memakai kertas ? kertas
terakhir kali dipakai 60 tahun lalu. Kini seluruh pohon digunakan sebagai bahan
baku pelindung kulit dari radiasi sinar ultra violet. Pohon tersebut diambil
sarinya, dan akan dibuat dalam betuk krim.
Lulus S2 pada usia 17
tahun tidak menjamin kehidupanku di abad 24. Para mahasiswa lulusan S1 hanya
akan menjadi penjahat manusia, pencopet, maling, pembunuh. Pelecehan seksual ?
Di zaman ini tidak ada, kita tidak perlu memaksa wanita untuk melakukan
tindakan asusila tersebut, karena wanita di zaman ini tidaklah ada harganya
sama sekali. Malah mereka yang akan memohon – mohon pada lelaki yang jumlahnya
kini hanya sedikit.
Dengan gaji 3,5 liter
minyak bumi per bulannya, kami harus bisa mencukupkan kebutuhan kami. Di tahun
2367, bukan orang pintar yang dapat menguasai dunia. Melainkan orang yang
memegang banyak benda langka, yaitu yang paling banyak memiliki air bersih,
minyak bumi, oksigen kalengan, dan daging. Jika tidak, kamu harus lebih kuat
dari yang lain untuk merebut apa yang ia punya, hukum rimba berlaku “ yang
terkuat, bertahan.”
Setelah 16 jam yang melelahkan,
aku pulang kembali ke rumah. Bukan rumah sesungguhnya, hanya sebuah kotak
berisi tempat tidur yang biasa kami sebut sleepbox. Kudayung sepeda tua hasil
aku menabung gaji bertahun – tahun lamanya. Berjalan mengitari jalan aspal yang
mulai menipis seiring sulitnya minyak bumi ditemukan.
Di tengah perjalanan aku
dihadang oleh 3 gadis muda bertubuh kurus dan kusut. Dengan tatapan iba mereka
datang menghampiriku perlahan. Seketika aku takut dan memacu sepeda sekencang –
kencangnya, tak urung mereka pun ikut berlari. Aku takut mereka lebih marah dan
membunuhku, akhirnya kuputuskan untuk berhenti dan berdialog sejenak.
“ Ada apa ? Saya tidak
punya apa – apa untuk diberi. Saya tidak punya apa – apa untuk dicuri. Daging
tubuh saya pun sedikit, jadi rugi bagi anda untuk membunuh saya. “ tak ragu –
ragu kudeskripsikan kekuranganku. Mereka tidak berekspresi, tampaknya mereka
tidak terlalu mendengar apa yang kujelaskan.
“ Tidak. Tidak perlu kau
serahkan dagingmu, cukup kau hamili saja kami bertiga dan kau akan bebas. ”
gadis yang sepertinya paling tua diantara mereka memulai perbincangan.
“ Ya, kami ingin kau
menghamili kami. Agar bayi yang kami lahirkan nanti dapat kami makan.” Gadis
kedua meneruskan.
“ Kami tidak tahu mencari
daging dimana lagi. Apalagi tumbuhan, kalau ada rumput pun akan kami makan.”
Gadis ketiga tampaknya tidak bersahabat, ia mendorong stang sepedaku ke arah
kiri hingga ia dapat lebih dekat denganku.
“ Tidak, aku tidak mau.
Kalian cari saja laki – laki yang lain. Aku mau tidur, besok aku bekerja.”
Kuhardik mereka terang – terangan, namun seperti yang sudah kujelaskan tadi mereka
kini tidaklah memiliki harga sama sekali. Mereka tidak peduli mereka dilecehkan
atau tidak, yang penting mereka bertahan hidup. Walaupun hidup dengan memakan
bayi mereka sendiri. Tatapan mereka yang
semula kosong semu tanpa ekspresi kini berubah menjadi tajam dan penuh benci.
Aku sudah hafal dengan perilaku wanita zaman kini, jika keinginan mereka tidak
dipenuhi, maka ia akan membunuh mangsa mereka tersebut untuk diambil dagingnya.
Kupacu sepeda sekencang – kencangnya hingga salah seorang dari gadis tersebut
jatuh kudorong. Belum sempat sampai di rumah, aku melihat lagi peristiwa “zaman
kini” lainnya. Seorang nenek memotong leher cucu perempuannya untuk diminum
darahnya. Aku tidak ingin melihatnya, bukan karena takut. Pembantaian manusia
sudah merupakan tontonan biasa saat ini, namun aku benar – benar mengantuk dan
ingin tidur.
Kututup sleepbox perlahan,
dan kuraih kembali buku harian kuno yang kucuri 3 hari lalu dari museum. Kucari
halaman yang terakhir kubaca.
20
Desember 2001
Dear
diary
Tadi
teman sekelasku mengajak pergi ke sawah di belakang sekolah. Aku pulang
terlambat ke rumah, dan bajuku kotor oleh lumpur. Seperti yang kuduga, ibuku
pasti marah saat aku pulang dalam keadaan begini. Lagi – lagi hari ini aku
kesal. Ibu, mengapa ibu selalu marah – marah? Aku tidak mau
makan sayur saja, ibu sudah marah – marah. Ibu bilang aku seperti anak – anak. Aku kan masih 14 tahun, jadi wajar
saja kalau tingkahku masih seperti anak – anak.
Jika
hidup berdasar keinginan, aku ingin hidup di abad 21. Anak bukanlah sesuatu
yang harus dibuang karena dianggap merepotkan. Anak bukanlah sesuatu yang
sengaja kau lahirkan untuk kau makan. Anak ini tentu sangat bodoh, dia tidak
mau makan sayur yang diberikan oleh ibunya dengan percuma. Jangankan sayur,
rumput segar pun aku mau jika diberi secara gratis.
Cepat – cepat kututup buku
itu dan kugosokkan perlahan spon ke tubuhku agar seluruh kotoran keluar. Mandi
? kalian pikir kami mandi ? Mandi adalah sesuatu tindakan kriminal disini,
karena menghamburkan air. Bagi siapa yang menghamburkan air, akan langsung
dikenakan hukuman. Tapi kalian tak perlu repot – repot membaca buku hukum,
karena jika kalian hidup di zaman ini, kalian akan tahu betapa berharganya air.
Hani menyudahi cerpennya
sembari merenung.
“ Ah, seandainya aku
menjadi Yoko dan hidup di zamannya, aku pasti bunuh diri. Aku tidak sanggup
tinggal di bumi yang berisi manusia dengan rata – rata usia hidup 20 tahun itu.
Alhamdulillah aku hidup di tahun 2012 yang sumber daya alamnya masih dapat
mencukupi kebutuhanku.” Hani berkata dalam hati. Cerpennya masih belum rampung,
hanya ¾ bagian yang ia selesaikan hari ini.
Hani mengambil secarik
kertas lusuh dan menitikkan beberapa tetes tinta :
Aku
bersyukur hidup di masa air masih bisa didapat, cukup memutar keran air saja.
Aku
bersyukur hidup di masa minyak masih bisa didapat, cukup pergi ke pangkalan
minyak saja.
Aku
bersyukur masih hidup dimana menu makanan bukanlah sekedar daging mentah, cukup
meminta pada ibu saja.
Aku
bersyukur membuat cerpen ini, membuatku sadar akan kehidupan manusia kelak.
Hani beranjak dari kursi
tua yang meninggalkan derik kecil saat duduk diatasnya. Seketika ia berjalan ke
kamar, menutup semua keran air dan mematikan semua lampu.