Merendahkan orang..
Aku sudah beberapa kali mengalami kejadian yang kurang menyenangkan.
Kita semua sebagai manusia, pasti tidak suka jika dipandang rendah oleh orang lain, bukan? Apalagi jika seseorang itu merendahkan kita hanya karena penampilan kita saja.
Tidak dipungkiri lagi, masyarakat sekarang sudah terbagi atas kelas - kelas berdasarkan penghasilan atau pengeluaran. Biasanya dibagi menjadi 3 kelas: menengah atas (pengeluaran >250.000/hari), menengah (pengeluaran 25.000-250.000/hari), menengah bawah (pengeluaran <25.000/hari)
Pembagian kelas - kelas tersebut sebaiknya tidak dijadikan acuan untuk merendahkan seseorang. Kaum menengah atas janganlah merendahkan kaum menengah, begitupun kaum menengah janganlah merendahkan kaum menengah bawah. Karena belum tentu orientasi hidup seseorang itu materi yang melimpah, bisa jadi seseorang itu sesungguhnya mampu melebihi kita dalam hal kemampuan finansial, hanya saja ia mengorbankan hidupnya untuk masyarakat, atau keluarga sehingga tidak terlalu berambisi dengan kekayaan finansial.
Aku pribadi suka memakai baju kaos biasa, yang kalau beli di PGS (Pusat Grosir Solo) atau Pasar Beringharjo Jogja, harganya sekitar puluhan ribu. Menurutku harga segitu worth it dengan kondisi bahan yang lembut, tidak kasar, dan elastis. Dengan kualitas yang sama, orang - orang memilih membeli kaos Dagadu dsb yang harganya ratusan ribu karena ingin mendapatkan kekuatan "brand"nya. Aku tidak masalah dengan orang yang seperti itu, itu hak mereka ingin membelanjakan uang mereka kebarang apa saja yang mereka inginkan. Tapi yang aku tidak suka itu jika seseorang yang "mampu" membeli kaos ratusan ribu itu, merendahkan orang - orang yang membeli kaos puluhan ribu. Padahal bukan berarti para pembeli kaos puluhan ribu tersebut tidak "mampu" untuk membeli kaos ratusan ribu. Hanya saja sebagian dari mereka tidak mementingkan "merk" atau "brand" namun lebih memepertimbangkan kenyamanan serta kecocokan baju.
Langsung saja aku ingin menceritakan beberapa pengalamanku terkait "penampilan" ini.
Pernah suatu ketika aku pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Saat sedang berkeliling, aku melihat baju yang bagus dan terlihat sangat lembut sehingga aku tertarik untuk membeli. Saat aku masuk ke dalam stand baju tersebut, aku tidak dilayani, melainkan dilihat dan diperhatikan dari ujung kaki keujung kepala seolah aku hendak mencuri barang dari toko tersebut. Dengan pandangan mata yang kurang mengenakkan, karyawan tersebut memperhatikan setiap gerak-gerikku, Tentu saja aku merasa tidak nyaman. Tidak beberapa lama, datang seorang gadis juga dengan "penampilan" yang "wah". karyawan di toko tersebut benar - benar menyambut baik gadis tersebut, Hal itu wajar, karena dalam ilmu marketing tentu saja pembeli yang potensial harus disambut dengan baik. Yang aku tidak suka adalah ketika aku yang masuk, kenapa aku tidak dilayani sedemikian rupa? Apa karena "penampilan"ku dengan kaos "puluhan ribu" itu tidak termasuk dalam daftar pangsa pasar mereka? Singkat cerita, karena aku memang tertarik dengan beberapa baju, akhirnya aku putuskan untuk membeli 3 buah baju langsung. Bukan karena boros, hanya saja mengingat intensitas untuk pergi ke pusat perbelanjaan itu jarang, sehingga aku putuskan untuk langsung membeli ketiganya.
Kalian tahu apa yang terjadi? Saat aku pergi ke kasir, karyawan itu bukan membantuku, malah menginterogasiku layaknya aku tidak mampu untuk membeli baju - baju tersebut. "Mbak beli 3 ini?" "Iya" "Ini satunya 300 an ya mbak, gak ada diskon"
Apakah sebegitu teganya terhadap pembeli potensial ini? -__- Aku merasa tersinggung dan sebal, sehingga aku urungkan niatku untuk membeli pakaian di stand tersebut.
Cerita lain juga ada. Kebetulan aku kos disebuah kos yang lumayan bagus, yang mungkin harganya sedikit diatas rata - rata. Aku kos disana karena ingin dekat dengan temanku yang berasal dari daerah yang sama. Jadi, terkadang saat aku pulang, di luar kos ada teman dari penghuni kamar lain yang sedang menunggu untuk dibukakan pintu. Biasanya mereka menunggu di depan pintu sembari bermain smartphone. Karena aku akan masuk, tentu saja aku permisi dengan orang tersebut. "Maaf mbak, bisa permisi sedikit?" "Pintunya dikunci mbak, aku aja lagi nunggu temenku" kata orang tersebut. "Iya mbak, saya mau masuk, makanya permisi sedikit". Dengan muka enggan, dia bergeser dan seolah dalam hatinya berkata "mbak ini kok ngeyel ya? udah dibilang pintunya dikunci". Lalu saat aku turun dari motor dan membuka pintu, dia melihatku dari ujung kaki ke ujung kepala.Seolah - oleh dia tidak percaya bahwa aku juga penghuni kos tersebut. Benar - benar situasi yang sangat aku tidak suka. Dan tanpa berterimakasih karena sudah dibukakan, dia langsung buru -buru masuk untuk menemui temannya itu. Hal itu bukan sekali aku alami, namun berkali - kali. Bahkan yang paling parah aku rasakan adalah ketika seorang teman laki laki salah satu penghuni kos ini berkata "kamar disini berapaan sih? Ada yang gapake ac gak? Mbak itu kamarnya pake ac juga ya?". Meski dia berbicara dibelakangku, aku masih dapat mendengarnya, sehingga aku benar - benar tersinggung saat itu.
Hal yang aku tidak suka adalah ketika seseorang merendahkan orang lain hanya karena "penampilan". Bukan hanya "penampilan" sih, tapi kita sebagai manusia memang sudah seharusnya tidak boleh merendahkan siapapun, bukan? Kita sama sama manusia, sudah seharusnya kita memandang diri kita sama dengan semua manusia lain. Apakah hanya karena adanya kelas - kelas sosial, lantas kita bisa merendahkan seseorang yang memiliki kelas sosial dibawah kita? Jika kamu seseorang lulusan SMA, janganlah merendahkan seseorang yang hanya lulusan SMP. Bisa jadi ia hanya bisa lulus SMP karena membiayai sekolah untuk adiknya. Jika kamu seseorang yang memiliki kemampuan akademis yang baik, janganlah merendahkan seseorang yang memiliki kemampuan akademis dibawahmu, bisa jadi ia sibuk dengan bakat entrepreneurnya sehingga ia tidak memiliki waktu sebanyak dirimu untuk belajar secara akademis. Tidak ada kebaikan dalam merendahkan orang lain. Kamu tidak akan bertambah tinggi martabatnya, begitupun seseorang yang kamu rendahkan tidak pula menjadi rendah martabatnya dihadapan Tuhan.
Terima kasih sudah membaca ^_^ Semoga bermanfaat~
Aku sudah beberapa kali mengalami kejadian yang kurang menyenangkan.
Kita semua sebagai manusia, pasti tidak suka jika dipandang rendah oleh orang lain, bukan? Apalagi jika seseorang itu merendahkan kita hanya karena penampilan kita saja.
Tidak dipungkiri lagi, masyarakat sekarang sudah terbagi atas kelas - kelas berdasarkan penghasilan atau pengeluaran. Biasanya dibagi menjadi 3 kelas: menengah atas (pengeluaran >250.000/hari), menengah (pengeluaran 25.000-250.000/hari), menengah bawah (pengeluaran <25.000/hari)
Pembagian kelas - kelas tersebut sebaiknya tidak dijadikan acuan untuk merendahkan seseorang. Kaum menengah atas janganlah merendahkan kaum menengah, begitupun kaum menengah janganlah merendahkan kaum menengah bawah. Karena belum tentu orientasi hidup seseorang itu materi yang melimpah, bisa jadi seseorang itu sesungguhnya mampu melebihi kita dalam hal kemampuan finansial, hanya saja ia mengorbankan hidupnya untuk masyarakat, atau keluarga sehingga tidak terlalu berambisi dengan kekayaan finansial.
Aku pribadi suka memakai baju kaos biasa, yang kalau beli di PGS (Pusat Grosir Solo) atau Pasar Beringharjo Jogja, harganya sekitar puluhan ribu. Menurutku harga segitu worth it dengan kondisi bahan yang lembut, tidak kasar, dan elastis. Dengan kualitas yang sama, orang - orang memilih membeli kaos Dagadu dsb yang harganya ratusan ribu karena ingin mendapatkan kekuatan "brand"nya. Aku tidak masalah dengan orang yang seperti itu, itu hak mereka ingin membelanjakan uang mereka kebarang apa saja yang mereka inginkan. Tapi yang aku tidak suka itu jika seseorang yang "mampu" membeli kaos ratusan ribu itu, merendahkan orang - orang yang membeli kaos puluhan ribu. Padahal bukan berarti para pembeli kaos puluhan ribu tersebut tidak "mampu" untuk membeli kaos ratusan ribu. Hanya saja sebagian dari mereka tidak mementingkan "merk" atau "brand" namun lebih memepertimbangkan kenyamanan serta kecocokan baju.
Langsung saja aku ingin menceritakan beberapa pengalamanku terkait "penampilan" ini.
Pernah suatu ketika aku pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Saat sedang berkeliling, aku melihat baju yang bagus dan terlihat sangat lembut sehingga aku tertarik untuk membeli. Saat aku masuk ke dalam stand baju tersebut, aku tidak dilayani, melainkan dilihat dan diperhatikan dari ujung kaki keujung kepala seolah aku hendak mencuri barang dari toko tersebut. Dengan pandangan mata yang kurang mengenakkan, karyawan tersebut memperhatikan setiap gerak-gerikku, Tentu saja aku merasa tidak nyaman. Tidak beberapa lama, datang seorang gadis juga dengan "penampilan" yang "wah". karyawan di toko tersebut benar - benar menyambut baik gadis tersebut, Hal itu wajar, karena dalam ilmu marketing tentu saja pembeli yang potensial harus disambut dengan baik. Yang aku tidak suka adalah ketika aku yang masuk, kenapa aku tidak dilayani sedemikian rupa? Apa karena "penampilan"ku dengan kaos "puluhan ribu" itu tidak termasuk dalam daftar pangsa pasar mereka? Singkat cerita, karena aku memang tertarik dengan beberapa baju, akhirnya aku putuskan untuk membeli 3 buah baju langsung. Bukan karena boros, hanya saja mengingat intensitas untuk pergi ke pusat perbelanjaan itu jarang, sehingga aku putuskan untuk langsung membeli ketiganya.
Kalian tahu apa yang terjadi? Saat aku pergi ke kasir, karyawan itu bukan membantuku, malah menginterogasiku layaknya aku tidak mampu untuk membeli baju - baju tersebut. "Mbak beli 3 ini?" "Iya" "Ini satunya 300 an ya mbak, gak ada diskon"
Apakah sebegitu teganya terhadap pembeli potensial ini? -__- Aku merasa tersinggung dan sebal, sehingga aku urungkan niatku untuk membeli pakaian di stand tersebut.
Cerita lain juga ada. Kebetulan aku kos disebuah kos yang lumayan bagus, yang mungkin harganya sedikit diatas rata - rata. Aku kos disana karena ingin dekat dengan temanku yang berasal dari daerah yang sama. Jadi, terkadang saat aku pulang, di luar kos ada teman dari penghuni kamar lain yang sedang menunggu untuk dibukakan pintu. Biasanya mereka menunggu di depan pintu sembari bermain smartphone. Karena aku akan masuk, tentu saja aku permisi dengan orang tersebut. "Maaf mbak, bisa permisi sedikit?" "Pintunya dikunci mbak, aku aja lagi nunggu temenku" kata orang tersebut. "Iya mbak, saya mau masuk, makanya permisi sedikit". Dengan muka enggan, dia bergeser dan seolah dalam hatinya berkata "mbak ini kok ngeyel ya? udah dibilang pintunya dikunci". Lalu saat aku turun dari motor dan membuka pintu, dia melihatku dari ujung kaki ke ujung kepala.Seolah - oleh dia tidak percaya bahwa aku juga penghuni kos tersebut. Benar - benar situasi yang sangat aku tidak suka. Dan tanpa berterimakasih karena sudah dibukakan, dia langsung buru -buru masuk untuk menemui temannya itu. Hal itu bukan sekali aku alami, namun berkali - kali. Bahkan yang paling parah aku rasakan adalah ketika seorang teman laki laki salah satu penghuni kos ini berkata "kamar disini berapaan sih? Ada yang gapake ac gak? Mbak itu kamarnya pake ac juga ya?". Meski dia berbicara dibelakangku, aku masih dapat mendengarnya, sehingga aku benar - benar tersinggung saat itu.
Hal yang aku tidak suka adalah ketika seseorang merendahkan orang lain hanya karena "penampilan". Bukan hanya "penampilan" sih, tapi kita sebagai manusia memang sudah seharusnya tidak boleh merendahkan siapapun, bukan? Kita sama sama manusia, sudah seharusnya kita memandang diri kita sama dengan semua manusia lain. Apakah hanya karena adanya kelas - kelas sosial, lantas kita bisa merendahkan seseorang yang memiliki kelas sosial dibawah kita? Jika kamu seseorang lulusan SMA, janganlah merendahkan seseorang yang hanya lulusan SMP. Bisa jadi ia hanya bisa lulus SMP karena membiayai sekolah untuk adiknya. Jika kamu seseorang yang memiliki kemampuan akademis yang baik, janganlah merendahkan seseorang yang memiliki kemampuan akademis dibawahmu, bisa jadi ia sibuk dengan bakat entrepreneurnya sehingga ia tidak memiliki waktu sebanyak dirimu untuk belajar secara akademis. Tidak ada kebaikan dalam merendahkan orang lain. Kamu tidak akan bertambah tinggi martabatnya, begitupun seseorang yang kamu rendahkan tidak pula menjadi rendah martabatnya dihadapan Tuhan.
Terima kasih sudah membaca ^_^ Semoga bermanfaat~