Blogger Widgets

Pikir - Pikir Sebelum Merendahkan Orang

Monday, 25 April 2016

Merendahkan orang..
Aku sudah beberapa kali mengalami kejadian yang kurang menyenangkan.
Kita semua sebagai manusia, pasti tidak suka jika dipandang rendah oleh orang lain, bukan? Apalagi jika seseorang itu merendahkan kita hanya karena penampilan kita saja.
Tidak dipungkiri lagi, masyarakat sekarang sudah terbagi atas kelas - kelas berdasarkan penghasilan atau pengeluaran. Biasanya dibagi menjadi 3 kelas: menengah atas (pengeluaran >250.000/hari), menengah (pengeluaran 25.000-250.000/hari), menengah bawah (pengeluaran <25.000/hari)
Pembagian kelas - kelas tersebut sebaiknya tidak dijadikan acuan untuk merendahkan seseorang. Kaum menengah atas janganlah merendahkan kaum menengah, begitupun kaum menengah janganlah merendahkan kaum menengah bawah. Karena belum tentu orientasi hidup seseorang itu materi yang melimpah, bisa jadi seseorang itu sesungguhnya mampu melebihi kita dalam hal kemampuan finansial, hanya saja ia mengorbankan hidupnya untuk masyarakat, atau keluarga sehingga tidak terlalu berambisi dengan kekayaan finansial.

Aku pribadi suka memakai baju kaos biasa, yang kalau beli di PGS (Pusat Grosir Solo) atau Pasar Beringharjo Jogja, harganya sekitar puluhan ribu. Menurutku harga segitu worth it dengan kondisi bahan yang lembut, tidak kasar, dan elastis. Dengan kualitas yang sama, orang - orang memilih membeli kaos Dagadu dsb yang harganya ratusan ribu karena ingin mendapatkan kekuatan "brand"nya. Aku tidak masalah dengan orang yang seperti itu, itu hak mereka ingin membelanjakan uang mereka kebarang apa saja yang mereka inginkan. Tapi yang aku tidak suka itu jika seseorang yang "mampu" membeli kaos ratusan ribu itu, merendahkan orang - orang yang membeli kaos puluhan ribu. Padahal bukan berarti para pembeli kaos puluhan ribu tersebut tidak "mampu" untuk membeli kaos ratusan ribu. Hanya saja sebagian dari mereka tidak mementingkan "merk" atau "brand" namun lebih memepertimbangkan kenyamanan serta kecocokan baju.

Langsung saja aku ingin menceritakan beberapa pengalamanku terkait "penampilan" ini.
Pernah suatu ketika aku pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Saat sedang berkeliling, aku melihat baju yang bagus dan terlihat sangat lembut sehingga aku tertarik untuk membeli. Saat aku masuk ke dalam stand baju tersebut, aku tidak dilayani, melainkan dilihat dan diperhatikan dari ujung kaki keujung kepala seolah aku hendak mencuri barang dari toko tersebut. Dengan pandangan mata yang kurang mengenakkan, karyawan tersebut memperhatikan setiap gerak-gerikku, Tentu saja aku merasa tidak nyaman. Tidak beberapa lama, datang seorang gadis juga dengan "penampilan" yang "wah". karyawan di toko tersebut benar - benar menyambut baik gadis tersebut, Hal itu wajar, karena dalam ilmu marketing tentu saja pembeli yang potensial harus disambut dengan baik. Yang aku tidak suka adalah ketika aku yang masuk, kenapa aku tidak dilayani sedemikian rupa? Apa karena "penampilan"ku dengan kaos "puluhan ribu" itu tidak termasuk dalam daftar pangsa pasar mereka? Singkat cerita, karena aku memang tertarik dengan beberapa baju, akhirnya aku putuskan untuk membeli 3 buah baju langsung. Bukan karena boros, hanya saja mengingat intensitas untuk pergi ke pusat perbelanjaan itu jarang, sehingga aku putuskan untuk langsung membeli ketiganya.
Kalian tahu apa yang terjadi? Saat aku pergi ke kasir, karyawan itu bukan membantuku, malah menginterogasiku layaknya aku tidak mampu untuk membeli baju - baju tersebut. "Mbak beli 3 ini?" "Iya" "Ini satunya 300 an ya mbak, gak ada diskon"
Apakah sebegitu teganya terhadap pembeli potensial ini? -__- Aku merasa tersinggung dan sebal, sehingga aku urungkan niatku untuk membeli pakaian di stand tersebut.

Cerita lain juga ada. Kebetulan aku kos disebuah kos yang lumayan bagus, yang mungkin harganya sedikit diatas rata - rata. Aku kos disana karena ingin dekat dengan temanku yang berasal dari daerah yang sama. Jadi, terkadang saat aku pulang, di luar kos ada teman dari penghuni kamar lain yang sedang menunggu untuk dibukakan pintu. Biasanya mereka menunggu di depan pintu sembari bermain smartphone. Karena aku akan masuk, tentu saja aku permisi dengan orang tersebut. "Maaf mbak, bisa permisi sedikit?" "Pintunya dikunci mbak, aku aja lagi nunggu temenku" kata orang tersebut. "Iya mbak, saya mau masuk, makanya permisi sedikit". Dengan muka enggan, dia bergeser dan seolah dalam hatinya berkata "mbak ini kok ngeyel ya? udah dibilang pintunya dikunci". Lalu saat aku turun dari motor dan membuka pintu, dia melihatku dari ujung kaki ke ujung kepala.Seolah - oleh dia tidak percaya bahwa aku juga penghuni kos tersebut. Benar - benar situasi yang sangat aku tidak suka. Dan tanpa berterimakasih karena sudah dibukakan, dia langsung buru -buru masuk untuk menemui temannya itu. Hal itu bukan sekali aku alami, namun berkali - kali. Bahkan yang paling parah aku rasakan adalah ketika seorang teman laki laki salah satu penghuni kos ini berkata "kamar disini berapaan sih? Ada yang gapake ac gak? Mbak itu kamarnya pake ac juga ya?". Meski dia berbicara dibelakangku, aku masih dapat mendengarnya, sehingga aku benar - benar tersinggung saat itu.

Hal yang aku tidak suka adalah ketika seseorang merendahkan orang lain hanya karena "penampilan". Bukan hanya "penampilan" sih, tapi kita sebagai manusia memang sudah seharusnya tidak boleh merendahkan siapapun, bukan? Kita sama sama manusia, sudah seharusnya kita memandang diri kita sama dengan semua manusia lain. Apakah hanya karena adanya kelas - kelas sosial, lantas kita bisa merendahkan seseorang yang memiliki kelas sosial dibawah kita? Jika kamu seseorang lulusan SMA, janganlah merendahkan seseorang yang hanya lulusan SMP. Bisa jadi ia hanya bisa lulus SMP karena membiayai sekolah untuk adiknya. Jika kamu seseorang yang memiliki kemampuan akademis yang baik, janganlah merendahkan seseorang yang memiliki kemampuan akademis dibawahmu, bisa jadi ia sibuk dengan bakat entrepreneurnya sehingga ia tidak memiliki waktu sebanyak dirimu untuk belajar secara akademis. Tidak ada kebaikan dalam merendahkan orang lain. Kamu tidak akan bertambah tinggi martabatnya, begitupun seseorang yang kamu rendahkan tidak pula menjadi rendah martabatnya dihadapan Tuhan.

Terima kasih sudah membaca ^_^ Semoga bermanfaat~

Perawatan Rambut Bagi Pemakai Jilbab

Thursday, 26 June 2014

Bismillah...
hai sobat inspirator, kali ini saya bakalan ngepost beberapa tips n trik bagi cewe cewe pemakai jilbab :). Buat sobat yang tidak memakai jilbab, boleh membaca - baca postingan ini sekedar untuk menambah ilmu, hhehe..

mukadimah :
memakai jilbab lantas bukan berarti menomorterakhirkan perawatan rambut loh sobat. rambut kita harus tetap dijaga. mungkin beberapa sobat ada yang berfikir "untuk apa dirawat intensif kalau gak akan ditampilkan ke orang lain" waaah ini fikiran yang salah ya sobat. karena ...


nah, karena Allah indah dan menyukai keindahan :). sobat ingin kan disukai Allah, maka mari kita berindah-indah diri :3 hehhe....
bagi para pemakai jilbab, sudah tentu harus lebih ekstra menjaga kesehatan dan keindahan rambutnya karena akan mengalami beberapa permasalahan yang mungkin tidak dialami oleh yang tidak memakai jilbab.
Beberapa permasalahan yang terjadi antara lain :

1. rambut patah karena sering diikat
yaah ini permasalah yang sering terjadi, karena para jilbabers yang memiliki rambut panjang acapkali mengikat rambutnya bahkan hingga melipat rambut (you know what I mean ) yang seperti ini contohnya
karena rambut panjang mesti diikat seperti ini agar tidak berpunuk, sehingga meninggalkan bekas ikatan seperti patahan pada rambut kita. kalau yang seperti ini dapat mengakibatkan rambut yang asli lurus menjadi sedikit bergelombang karenanya, betul tidak?? :D

perlakuan yang tepat adalah sering- seringlah hair mask. Hair mask tidak melulu dilakukan di salon, kita dapat melakukannya sendiri di rumah, di kamar.
Saya pribadi tidak memakai conditioner setelah keramas karena saya merasa rambut saya malah berminyak jadinya, tapi semua itu bergantung dari kecocokan masing - masing. bermacam macam hair mask dijual di pasaran, jadi sobat bisa memilih sendiri yang mana yang sesuai kebutuhan. kalau saya sering memakai m*k*r*z* yang royal jelly. 2 kali seminggu jika sobat sempat. yaaah, sambil - sambilan gitu kan, sambil nyemil hair mask an, sambil baca buku hair mask an. hahha. oiya, kalau semisal sobat melakukannya di salon, jika salon tersebut terdapat fasilitas ozon, sebaiknya di ozon saja daripada di steam, karena kalau di ozon rambut akan lebih lembab dan lentur ketimbang di steam. 

2. rambut bercabang
sebenarnya ini permasalah semua cewe yaa, bukan cuman jilbabers sih. kalau permasalaan ini sebaik nya ujung rambut dipotong sedikit. oiya, frekuensi keramas yang terlalu sering dengan menggunakan shampo yang keras dapat menyebabkan rambut kering sehingga mengakibatkan rambut bercabang. 


3. kulit kepala berketombe
beberapa cewe berjilbab mengalami kulit kepala berketombe. aktifitas sehari - hari di luar ruangan dengan kepala ditutup sehingga minyak dari kulit kepala terakumulasi dan dapat menyebabkan ketombe.
saya menyaran kan untuk memakai shampo untuk ketombe. untuk mengatasi rasa gatal sobat dapat memakai shampo yang versi cool/menthol dan sebelum bepergian dapat menyemprotkan spray khusus untuk untuk jilbabers yang dapar memberikan rasa singin, adem dan wangi selama beberapa jam. kalau yang saya pakai pribadi saya lupa merknya.


4. kutu
beberapa cewek yang berjilbab mungkin akan mendapati kutu di rambutnya. jangan panik dan jangan cemas. poin terpenting dari ini adalah berkeramas dengan shampo mentol dan sering - seringlah menyisir rambut dengan menggunakan sisir rapat. ada sisir rapat yang terbuat dari kayu ataupun dari plastik. jangan letih dan terus bersabar hingga kutu dan anak - anaknya benar benar hilang dari kepala. saat berkeramas saya sarankan diamkan rambut yang bershampo untuk beberapa lama lalu sehabis keramas bersisirlah. untuk mengatasi rasa gatal sobat dapat menggunakan spray khusus pemakai jilbab.


5. rambut memerah
jika ini terjadi pada sobat, berarti sobat belum memakai jilbab sepenuhnya. maksud saya masih sering lepas pasang atau memang karena keturunan. karena secara teori, rambut yang ditutup dan tidak terkena sinar matahari secara langsung, rambutnya akan lebih hitam dibandingkan dengan yang tidak tertutup. namun jika itu memang terjadi, janganlah di semir. pakailah shampo yang menghitamkan rambut, banyak di pasaran seperti n*t*r* atau s*ns*lk. jika dipakai secara rutin maka akan dapat menghitamkan rambut secara alami.
(kecuali jika sobat menyukai rambut yang sedikit kemerahan)

sobat inspirator yang memakai jilbab, walaupun mengalami berbagai permasalahan rambut, janganlah sobat melepas jilbab sobat :) saya pun tergadang merasa tergoda, setelah melihat cewe cewe remaja yang tidak berjilbab. namun ingatlah ini adalah kewajiban.

mari kita sama sama menuju arah yang lebih baik lagi :). jilbab tidaklah menyusahkan karena kita tetap dapat mengejar cita cita kita dan jilbab bukan lah suatu penghalang ^-^


FILM

Thursday, 19 June 2014

sore ini aku berencana untuk menonton film oculus. kemaren malam aku telponan sama temenku dan katanya sih film oculus itu bagus (padahal dianya sendiri belum nonton saat itu).
karena penasaran, saat aku ke warnet, langsung saja aku nonton film online gitu kan.. dan yaah kaget, kenapa? baru intro2 nya aja, adegan mesumnya udah mulai bermunculan. nah disini aku ingin mengeluarkan unek2ku yaa. jadi, aku ini termasuk penyuka film, dan yaah pastinya di film2 barat yang aku tonton SELALU ada adegan2 dewasanya. entah itu pelukan, ciuman, dan yang paling ekstrem yaah taulah...
aku sebagai anak yang baru saja dapet ktp yaah, risih dengan adanya adegan2 itu di setiap film2 barat. adegan2 itu seolah menjadi "bumbu penyedap", jika tak ada itu maka tak sedap. taukah kalian wahai para pembuat film? kami para remaja yang berusaha untuk tidak melihat adegan2 tersebut harus repot2 menutup layar, menutup mata atau mempercepat film. dan yang paling buat kesal itu kalau dalam adegan tersebut, tokoh2 saling berdialog dan dialog itu merupakan kata kunci dalam film tersebut. 
contohnya pada film orphan, jadi waktu itu aku mempercepat film orphan saat adegan ibu dan bapak angkatnya esther di kamar, lalu saat di scene agak agak akhir ada percakapan antara esther dan ibu angkatnya yg tidak kumengerti. ternyata jawaban dialog tersebut adalah saat adegan kamar ibu dan bapak angkatnya esther. -_- sebel aku kamfreet. dan itu aku taunya karena dikasih tau temen aku, waktu aku tanya "eh, kenapa sih di akhir akhir ibunya esther sama esther itu blablablaa"
"ooh, itu kan pernah dibilang sama bapaknya kalo blablablabla"
"eh iya apa? kapan?"
"ituuu, pas bapaknya esther sama ibunya lagi dikamar, di awal2 banget"
oaalaaaaaaahhhh kamfret pangkat dua..
balik lagi ke oculus, jadi ceritanya ibunya sedang memperlihatkan bekas luka parut yang ada di perutnya, nah lantas suaminya.... -_- entahlah. aku tak mau membahas itu disini. yang jelas aku kesel sebel. aduh, ini period time aku pulak.. kamfreet. ujung2nya aku udah ilfeel aja ama nih film. padahal kayaknya bagus.

oh iya satu lagi, aku kan cewek ya? nah, kalau di film2 barat gitu kan cewe cewenya pada bugil n telanjang gitu kan? nah aku gak rela coy tubuh cewe bisa diliet sama cowo yang belum nikah dengan mudahnya.. kamfret pangkat tiga. kayak di wanted contoh kecilnya, angelina buka baju aja mau mandi. yaah mandi memang buka baju sih, tapi ya pliss jangan dimasukin scene dong!! kan cowo cowo jadi pada tahu badan cewe itu gimanaa... ntar kalau dia menikah enggak surprise lagi doooongg. #maaf ngelantur

yaah aku memang ekstrovert and blak blakan jadi mohon maaf aku kayak marah2 di postingan ini, karena yaaaahh.. mungkin udah puncaknya aja -,- gudbaii

review frozen

Friday, 7 March 2014

mungkin alur ceritanya biasa - biasa aja, tapi idenya yang berbeda.
dari setiap kartun kerajaan yang pernah kutonton, kalau putrinya kena kutukan maka akan ada sang pangeran berkuda yang akan menolongnya. (halah bulshit -_-)

nah, dicerita ini, malah kekuatan cinta kakak -beradiklah yang dapat menghangatkan salju.
jadi ceritanya elsa (kakak) punya kekuatan es yang selalu disembunyikannya dari kecil, yang tahu kekuatan itu hanya dia dan kedua orangtuanya. lalu saat hari penobatan elsa tidak sengaja mengeluarkan kekuatannya. ia tidak mau menyakiti adiknya anna, lantas kabur ke gunung salju.
anna bukannya takut malah khawatir dengan kakaknya dan pergi menjemput di gunung es.

jarang - jarang loh, cerita kartun kerajaan tentang kisah kasih sayang antara kakak beradik. yang ada malahan biasanya kakak ngerebut pacar adiknya --_--, atau adik tirinya bunuh kakaknya, atau malah kakaknya adu domba adikny heleh , macet...

makanya ku suka sekali film ini. :) soalnya aku sayang sama kakakku. kalau liat film ini ingat kakakku deh.. ^-^



monggo dilirik

                                              ALHAMDULILLAH
   
                


14 Februari 2001
 Diary
Hari ini kamu tahu, kan? Hari ini adalah hari valentine, hari dimana banyak orang berbagi kasih sayang. Tapi sebenarnya aku kurang setuju, sih. Soalnya kita harus berbagi kasih sayang setiap hari, jangan hanya di hari valentine. Kamu setuju juga, kan? Oya, diary, tadi ada cowok yang mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku senang sekali. Dia memberiku coklat dan permen manis.
            Kasih sayang ? Apa itu kasih sayang ? Sejenis makanan atau minuman?  Berbagi kasih sayang? Kasih sayang itu enak, ya ? Aku belum pernah mencicipnya. Aku ingin membelinya, sepertinya gadis ini sangat senang mendapatkan kasih sayang. Mengungkapkan perasaan ? Apakah perasaan hendak membunuhnya ? Tapi mengapa gadis ini senang, dan lelaki itu juga memberinya coklat? Seumur hidup aku belum pernah diberi coklat oleh seseorang. Dulu aku mendapatkan coklat dari hasil kerjaku di pabrik nuklir kota ini selama 1 hari penuh. Bodoh sekali lelaki itu dengan Cuma – Cuma memberikan coklat pada gadis ini. Mungkin coklat itu adalah perangkap untuk gadis tersebut. Anak bodoh !

4 Juni 2001
Dear diary
Hari ini aku pergi ke dokter gigi untuk mencabut taringku yang terlalu panjang. Aku kesal diary, dari dulu aku diejek oleh teman – temanku karena gigiku yang seperti drakula ini. Tapi syukurlah, sekarang sudah beres. Tadi sebelum dicabut, gusiku disuntik terlebih dahulu sebanyak 3 kali. Kata dokter agar gigiku tidak sakit saat dicabut. Apalagi sekarang aku sudah 14 tahun, jadi dosis obat biusnya harus lebih banyak. Setelah dicabut, aku diberi segelas air untuk kumur – kumur. Tadi, hampir saja aku lupa untuk membuang air itu, aku hampir menelannya.
            Dokter gigi? Dokter gigi tidaklah bertugas mencabut gigi. Dulu dokter gigi bertugas memasang gigi palsu, dan sekarang di kotaku tidak ada dokter gigi. Daripada menjadi dokter gigi, pasti mereka berpikir lebih baik mencari makan untuk bertahan tetap hidup sampai esok hari. Untuk apa dia mencabut gigi pada usia 14 tahun ? Hal yang kuingat, aku terakhir kali punya gigi asli adalah saat aku berumur 12 tahun. Gigi asli memang tidak tahan, mudah bolong dan mudah patah. Sangat tidak efektif untuk mengunyah daging. Bukankah lebih baik jika menggantinya dengan gigi palsu dari logam, lebih tahan, lebih kuat dan yang terpenting tidak perlu digosok. Membuang air ? Bodoh sekali dia. Kalau aku tentu langsung kuminum tanpa pikir – pikir. Untuk menemukan air saja sangat susah, dia dengan mudahnya membuang air. Anak bodoh !

7 September2001
Diary !
Hari ini rumahku kebanjiran. Itulah resiko kalau kita tinggal di rumah dekat sungai. Kalau musim hujan, air akan melimpah dan rumah kita kena banjir. Tadi banyak anak – anak tetangga malah berenang di air banjir, padahal kan airnya kotor. Tapi kalau begitu, pasti untung bagi dokter kulit. Mengobati orang – orang yang kulitnya gatal – gatal terkena air kotor, aku mau menjadi dokter kulit saat aku dewasa nanti.
            Banjir ? Apa lagi ini ? Apakah banjir adalah air yang banyak ? Jika ia, tolong kirim ke rumahku. Jangan diberikan ke kotaku karena pasti akan dicuri. Musim hujan ? Yang kutahu musim hujan hanya terjadi di negeri – negeri dongeng. Ada satu cerita yang sangat kusenangi saat aku berumur 4 tahun, cerita dongeng “ Putri dan Pangeran Katak “ yang menceritakan negeri tersebut selalu dihujani air setiap saat. Aku berharap dapat bertemu hujan sesering itu, dan melihat katak seperti putri tersebut. Tak penting katak itu pangeran atau tidak, orang yang dapat melihat katak adalah termasuk orang yang sangat beruntung. Makhluk air sudah sangat langka di kota ini, banyak yang sudah punah.        
Lembaran – lembaran diary gadis ini penuh dengan kisah – kisah mustahil. Apakah ini sebuah buku dongeng yang dibuat iseng oleh seorang gadis 14 tahun ? Kusimpan rapi – rapi buku diary dengan tulisan “ Jangan dibuka, diary Ratih “ pada sampul depan berwarna merah pekat yang sudah mulai pudar dimakan usia. Ujung – ujung lembaran yang rapuh menjadi saksi bisu sejarah kehidupan gadis bernama “ Ratih “.
Kucoba menghisap udara panjang – panjang. Jumlah oksigen di atmosfir sekarang tidak lebih dari 10 %, jadi sepanjang apapun nafas yang kuhirup tidak akan pernah memuaskan paru – paru.
***
“ Yoko ! Mengapa kamu terlambat ? “ Aduh, bagaimana ini ? Aku terlambat 15 detik, jangan – jangan atasanku akan mengurangi jatah air bersihku. Ah, jatah air bersihku tahun lalupun ia potong tanpa alasan. Atasanku selalu saja ada alasan untuk mengurangi jatah air bersih pegawainya. Aku ingat sekali saat ada salah satu rekanku dipotong jatah air bersihnya, padahal dia sangat loyal di pabrik. Sertifikat lulusan S3 terbaiknya di salah satu universitas terbaik di Indonesia tidak dipikirkan saat pemotongan jatah tersebut. Apapun akan dilakukan bosku untuk mendapatkan keuntungan sebesar – besarnya.
“ Maaf, Pak. Tadi saya pergi ke bank air untuk mengambil persediaan air. “ Tidak, aku bahkan tidak punya stok di bank air sama sekali.
“ Ah, banyak alasan ! Jatah tahunan kamu dipotong setengah liter !” kalimat singkat mengakhiri dialog panas kami berdua. Pabrik ini termasuk pabrik yang paling banyak diinginkan ilmuwan sepertiku untuk bekerja. Sedikit dari sekian pabrik di kota ini yang mau memberikan jatah air bersih, biasanya kami harus membelinya. Atas dasar ini, aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku kembali bekerja.
Di dalam pabrik, seluruh rekanku memandang sinis. Mereka turut marah atas keterlambatanku, yang mengakibatkan pekerjaan mereka bertambah. Dulu, seluruh pekerjaan dikerjakan oleh robot bertenaga baterai, listrik, dan surya. Namun sekarang semenjak minyak bumi semakin langka, pabrik – pabrik kembali menggunakan jasa dan tenaga manusia. Sistem perekrutan sangat ketat, para pekerja di pabrik ini adalah ilmuwan terkemuka dan merupakan lulusan terbaik di universitasnya. Ya, kami para ilmuwan terbaik hanya menjadi buruh di pabrik ini.
Aku pun salah satu lulusan terbaik Universitas Cendekia, dengan IP sempurna 4,00. Dengan mudah kutuliskan thesisku dalam batu tulis. Kertas ? Kalian pikir kami memakai kertas ? kertas terakhir kali dipakai 60 tahun lalu. Kini seluruh pohon digunakan sebagai bahan baku pelindung kulit dari radiasi sinar ultra violet. Pohon tersebut diambil sarinya, dan akan dibuat dalam betuk krim.
Lulus S2 pada usia 17 tahun tidak menjamin kehidupanku di abad 24. Para mahasiswa lulusan S1 hanya akan menjadi penjahat manusia, pencopet, maling, pembunuh. Pelecehan seksual ? Di zaman ini tidak ada, kita tidak perlu memaksa wanita untuk melakukan tindakan asusila tersebut, karena wanita di zaman ini tidaklah ada harganya sama sekali. Malah mereka yang akan memohon – mohon pada lelaki yang jumlahnya kini hanya sedikit.
Dengan gaji 3,5 liter minyak bumi per bulannya, kami harus bisa mencukupkan kebutuhan kami. Di tahun 2367, bukan orang pintar yang dapat menguasai dunia. Melainkan orang yang memegang banyak benda langka, yaitu yang paling banyak memiliki air bersih, minyak bumi, oksigen kalengan, dan daging. Jika tidak, kamu harus lebih kuat dari yang lain untuk merebut apa yang ia punya, hukum rimba berlaku “ yang terkuat, bertahan.”
Setelah 16 jam yang melelahkan, aku pulang kembali ke rumah. Bukan rumah sesungguhnya, hanya sebuah kotak berisi tempat tidur yang biasa kami sebut sleepbox. Kudayung sepeda tua hasil aku menabung gaji bertahun – tahun lamanya. Berjalan mengitari jalan aspal yang mulai menipis seiring sulitnya minyak bumi ditemukan.
Di tengah perjalanan aku dihadang oleh 3 gadis muda bertubuh kurus dan kusut. Dengan tatapan iba mereka datang menghampiriku perlahan. Seketika aku takut dan memacu sepeda sekencang – kencangnya, tak urung mereka pun ikut berlari. Aku takut mereka lebih marah dan membunuhku, akhirnya kuputuskan untuk berhenti dan berdialog sejenak.
“ Ada apa ? Saya tidak punya apa – apa untuk diberi. Saya tidak punya apa – apa untuk dicuri. Daging tubuh saya pun sedikit, jadi rugi bagi anda untuk membunuh saya. “ tak ragu – ragu kudeskripsikan kekuranganku. Mereka tidak berekspresi, tampaknya mereka tidak terlalu mendengar apa yang kujelaskan.
“ Tidak. Tidak perlu kau serahkan dagingmu, cukup kau hamili saja kami bertiga dan kau akan bebas. ” gadis yang sepertinya paling tua diantara mereka memulai perbincangan.
“ Ya, kami ingin kau menghamili kami. Agar bayi yang kami lahirkan nanti dapat kami makan.” Gadis kedua meneruskan.
“ Kami tidak tahu mencari daging dimana lagi. Apalagi tumbuhan, kalau ada rumput pun akan kami makan.” Gadis ketiga tampaknya tidak bersahabat, ia mendorong stang sepedaku ke arah kiri hingga ia dapat lebih dekat denganku.
“ Tidak, aku tidak mau. Kalian cari saja laki – laki yang lain. Aku mau tidur, besok aku bekerja.” Kuhardik mereka terang – terangan, namun seperti yang sudah kujelaskan tadi mereka kini tidaklah memiliki harga sama sekali. Mereka tidak peduli mereka dilecehkan atau tidak, yang penting mereka bertahan hidup. Walaupun hidup dengan memakan bayi mereka sendiri.  Tatapan mereka yang semula kosong semu tanpa ekspresi kini berubah menjadi tajam dan penuh benci. Aku sudah hafal dengan perilaku wanita zaman kini, jika keinginan mereka tidak dipenuhi, maka ia akan membunuh mangsa mereka tersebut untuk diambil dagingnya. Kupacu sepeda sekencang – kencangnya hingga salah seorang dari gadis tersebut jatuh kudorong. Belum sempat sampai di rumah, aku melihat lagi peristiwa “zaman kini” lainnya. Seorang nenek memotong leher cucu perempuannya untuk diminum darahnya. Aku tidak ingin melihatnya, bukan karena takut. Pembantaian manusia sudah merupakan tontonan biasa saat ini, namun aku benar – benar mengantuk dan ingin tidur.
Kututup sleepbox perlahan, dan kuraih kembali buku harian kuno yang kucuri 3 hari lalu dari museum. Kucari halaman yang terakhir kubaca.

20 Desember 2001
Dear diary
Tadi teman sekelasku mengajak pergi ke sawah di belakang sekolah. Aku pulang terlambat ke rumah, dan bajuku kotor oleh lumpur. Seperti yang kuduga, ibuku pasti marah saat aku pulang dalam keadaan begini. Lagi – lagi hari ini aku kesal. Ibu, mengapa ibu selalu marah – marah? Aku tidak mau makan sayur saja, ibu sudah marah – marah. Ibu bilang aku seperti anak – anak. Aku kan masih 14 tahun, jadi wajar saja kalau tingkahku masih seperti anak – anak.
            Jika hidup berdasar keinginan, aku ingin hidup di abad 21. Anak bukanlah sesuatu yang harus dibuang karena dianggap merepotkan. Anak bukanlah sesuatu yang sengaja kau lahirkan untuk kau makan. Anak ini tentu sangat bodoh, dia tidak mau makan sayur yang diberikan oleh ibunya dengan percuma. Jangankan sayur, rumput segar pun aku mau jika diberi secara gratis.
Cepat – cepat kututup buku itu dan kugosokkan perlahan spon ke tubuhku agar seluruh kotoran keluar. Mandi ? kalian pikir kami mandi ? Mandi adalah sesuatu tindakan kriminal disini, karena menghamburkan air. Bagi siapa yang menghamburkan air, akan langsung dikenakan hukuman. Tapi kalian tak perlu repot – repot membaca buku hukum, karena jika kalian hidup di zaman ini, kalian akan tahu betapa berharganya air.
Hani menyudahi cerpennya sembari merenung.
“ Ah, seandainya aku menjadi Yoko dan hidup di zamannya, aku pasti bunuh diri. Aku tidak sanggup tinggal di bumi yang berisi manusia dengan rata – rata usia hidup 20 tahun itu. Alhamdulillah aku hidup di tahun 2012 yang sumber daya alamnya masih dapat mencukupi kebutuhanku.” Hani berkata dalam hati. Cerpennya masih belum rampung, hanya ¾ bagian yang ia selesaikan hari ini.
Hani mengambil secarik kertas lusuh dan menitikkan beberapa tetes tinta :
Aku bersyukur hidup di masa air masih bisa didapat, cukup memutar keran air saja.
Aku bersyukur hidup di masa minyak masih bisa didapat, cukup pergi ke pangkalan minyak saja.
Aku bersyukur masih hidup dimana menu makanan bukanlah sekedar daging mentah, cukup meminta pada ibu saja.
Aku bersyukur membuat cerpen ini, membuatku sadar akan kehidupan manusia kelak.

Hani beranjak dari kursi tua yang meninggalkan derik kecil saat duduk diatasnya. Seketika ia berjalan ke kamar, menutup semua keran air dan mematikan semua lampu.

Kumau yang Kuinginkan


oke, maaf, ini cerpen masih ababil banget -,-




“Bruakk!”  buku bersampul biru itu dilempar hingga ke ujung pintu. Buku yang berisi perjuangan para siswa yang didapat tiap semester itu ternyata tidak memuaskan ibuku. Nilai 79 pada mata pelajaran biologi menaikkan darahnya, dan membuat seisi rumah hingar – bingar.
“Apa ini? Masa’ nilai biologi tujuh, bodoh!”. Tidak merah memang, namun cukup untuk memanaskan suhu ibu dan membuatnya mengeluarkan kata – kata yang tidak berkasih itu.
“Ibu lihat dulu nilai fisikanya!” belaku. Sedikit iba melihat angka 97 yang diabaikan ibu. Kasihan Kartini yang bersusah payah memperjuangkan emansipasi  wanita. Ternyata perjuangannya yang membuahkan kontroversial dikalangan rakyat itu tidak dihargai ibuku. Aku tahu alasannya, namun ia mencoba menutup – nutupi.
“Kamu tuh cewek, tidak pantas untuk bekerja dibidang fisika. Perempuan itu baiknya menjadi dokter. Hilangkanlah pikiranmu untuk menjadi pakar fisika itu! Kamu sebentar lagi lulus, jadi sudah sepantasnya memikirkan masa depanmu!” bentakan keras itu masih terdengar syahdu di telinga. Aku sadar, dia yang sudah kehilangan kekencangan kulit itu haruslah dituruti pintanya. Belum lagi jika diingat perjuangannya membesarkan aku dan adikku tanpa ayah.
Bukan salah ayah yang meninggalkan kami bertiga hidup dalam kelam dunia. Dia hanya ceroboh dalam bekerja, hingga mengundang malaikat Izrail menunaikan tugasnya. Ya, dia memang ayahku, yang menuruni gen fisika-nya.
“Pokoknya kamu harus masuk fakultas kedokteran!” ibu memaksa dan tidak memberikan pilihan lain bagiku. Aku terpojok, dan mencoba memahami keinginan ibu yang sesungguhnya, yaitu tidak ingin aku berakhir seperti ayah.
Semester 2 kujalani dengan ikhlas dan berserah diri, mencoba memahami maksud tersembunyi dari hati dan naluri seorang ibu. Seorang ibu selalu menginginkan yang terbaik bagi anak – anaknya. Aku ingat, betapa ibu rela membelikan kami baju baru pada hari raya, walaupun ia mengenakan pakaian yang sobek pada lengan kanannya. Dan membiarkan kami makan terlebih dahulu sedangkan ia melahap sisa – sisanya. Seperti cerita – cerita dalam film di televisi, dimana keluarga yang ditinggalkan kepala keluarganya jatuh miskin dan ibunya harus bersusah payah untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
aUAN menunggu di 3 bulan ke depan. Aku cemas, takut jika tidak dapat memenuhi keinginan ibu. Kuurungkan tiap mimpi yang berhubungan dengan rahasia sifat – sifat benda itu, dan kuganti dengan bayangan – bayangan indah menangani pasien, dan memperbaiki letak anggota tubuh manusia pada yang seharusnya.

***
Pagi – pagi sekali, aku bersama 3 orang temanku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Aku yakin ini bukan panggilan atas nama hukuman, karena wajah ramah Ibu Rahimah pagi ini tidak membuatku berpikiran negatif.
“ Khoir, Hasan, Husna...” suara Pak Muslim yang berat mengawali perbincangan hangat kami pagi ini. Mula – mula ia bertanya mengenai cita – cita kami masing – masing, lalu memberi kami motivasi yang cukup tinggi. Aku salut, dalam usianya  yang sudah menghasilkan uban itu, ia masih berdedikasi tinggi. Tak heran, sekolah kami langsung mencuat dan diketahui keberadaannya sejak kepemimpinan Pak Muslim.
Dalam perbincangan singkat itu, Pak Muslim memberitahu bahwa masing – masing dari kami sudah menerima undangan dari universitas negeri. Hasan diterima di IPB, Husna di Unand, dan aku diterima di ITB, STEI
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku tidak tahu siapa yang membuat pepatah itu, yang jelas jika aku bertemu dia aku akan berterimakasih karena telah menemukan kalimat yang tepat bagi perasaanku saat ini. Seketika perasaan meluap berbunga terganti dengan perasaan bimbang tingkat tinggi. Aku tak sanggup memberi tahu ibu. Menghadapi kenyataan bahwa ibuku seorang penjahit tua yang sudah mulai tertarik kulitnya oleh gravitasi. Persaingan pasar tak dapat dimenangkannya, karena keterbatasan modal dan tenaga. Dan satu –satunya kebahagiaan baginya adlah dengan aku menjadi dokter.
Ku jeruji dalam – dalam impianku dan mencoba membuka buku campbell jilid 2 pinjaman perpustakan kota.
***
Pensil, penghapus, dan beberapa instrument belajar lainnya merupakan alat perang yang membantu dalam Ujian Nasional ku kali ini. Memulainya dengan basmalah merupakan keseharian yang tidak boleh ditinggalkan, karena sesuatu tanpa ridho Allah akan berakhir dengan tidak menyenangkan.
***
Sudah kukatakan, namun ibu kukuh dengan jawabannya.
“Tidak. Kamu, kan sudah tahu jawaban ibu! Kamu harus bisa masuk fakultas kedokteran. Ibu akan berusaha mencari uang untukmu.”
“Bu, tapi Maul harus masuk SMP, Bu. Dengan masuk universitas itu, Khoir akan meringankan beban Ibu.” Aku masih mencoba berkilah dan menjelaskan sisi positif argumenku. Perdebatan berakhir dengan kekalahanku.
Aku lulus, UAN berakhir dan aku puas. Tekad ibu untuk memasukkanku ke fakultas kedokteran tak tanggung – tanggung. Ia rela menggadaikan anting untuk mendapat biaya bagi tes “fakultas kedokteranku”. Berkali – kali tes kujalani, dan aku menangis mendapati nasibku. Masyarakat berekonomi rendah bagai tidak diberi kesempatan untuk bersekolah, dengan biaya masuk ratusan juta ibuku menyerah. Ibu memberi kesempatan bagiku menempuh jalan yang kuinginkan.
“ibu, bertahun – tahun Khoir menanti ini, menanti ibu merestui keinginan Khoir” aku sedu terharu. Bukan, ibu bukan mengizinkan, hanya membiarkanku merasakan bangku kuliah. Tapi tak apa, itu cukup.
***
Disini aku sekolah, ITB, universitas terkemuka di Indonesia. Aku bangga dan tak kupungkiri bahwa ini sangat kunikmati
Sehari – hari aku bekerja paruh waktu di sebuah toko elektronik. Tentunya aku merahasiakan dari ibuku, dengan mengatakan aku bekerja di sebuah rumah makan padang.
Inilah dunia yang kugeluti sekarang, membahagiakan sungguh karena datang dari hati. Tak ada lagi yang memaksaku membaca buku campbell yang bahkan membuat minusku bertambah.
***
Sebentar lagi penyusunan skripsi, aku menelepon ibuku untuk mengobati rasa rindu yang kudera selama beberapa bulan ini. Dari sini, ku tekan  tombol – tombol berisi angka – angka penuh harap itu.
Selama beberapa waktu, dari seberang sana seorang ibu – ibu yang kutahu bukan ibuku menjawab teleponku.
“Loh, mbak Khoir tidak tahu, ya? Ibu sudah 2 bulan ini gak bisa jalan, stroke” sontak aku kaget dan buru – buru meminta ibu itu untuk menghubungkan kepada ibuku.
“Sudah ibu bilang dulu, kamu jadi dokter aja, biar bisa ngobatin ibu. Kamu tidak serius belajarnya, sampai gak dapat beasiswa di kedokteran. Sekarang kamu bisa apa? Bisa ngobatin ibu?” ringkih ibu mengadu, aku terkikis, remuk hati rasanya.
Aku tidak bisa konsentrasi memikirkan cara untuk dapat membantu ibu. Skripsiku selesai, aku pulang ke rumah setelah melewati sidang – sidang yang melelahkan.
***
Ku buka pintu reot perlahan dan menghasilkan derik – derik kecil mengerikan.
“Bu, selama beberapa bulan ini Khoir sedang menyelesaikan skripsi, dan bulan depan Khoir wisuda. Ibu datang, ya? Nanti ongkosnya Khoir siapin.”
“Ya,” jawaban singkat ibu melonggarkan ketegangan dadaku yang sempat turun naik tak berirama.



Tiba di hari itu, hari dimana aku mengenakan toga, dan mendengar ceramah berjam – jam lamanya dalam ruangan ber AC. Ibu mengiringiku, dia turut membawa adikku yang kini duduk di bangku SMA. Dia mengenakan pakaian terbaiknya dan duduk di kursi roda tua, yang ia beli di pasar loakan. Setelah ini, aku tak bingung melanjutkan pendidikanku, karena sesungguhnya aku sudah mendapat tawaran untuk mengenyam pendidikan lanjutan di Nanyang University, Singapore. Dan aku masih ragu karena ibuku masih bersikeras terhadap prinsipnya itu.
*Beberapa tahun kemudian*
Tiba saat dimana aku dipanggil dengan nilai lulusan kedua terbaik, semua hadirin bertepuk tangan. Aku menyelesaikan skripsiku, sekaligus penemuanku yang pertama, kursi roda dengan pengendalian pikiran.
“Semua untuk ibu, untuk membantu meringankan kesusahannya. Aku menciptakan ini saat memikirkan ibu.” Sepotong kata yang keluar dari mulutku ini rasanya cukup untuk melepas bendungan waduk air mata ibu. Ia terharu. Aku mengajaknya ke panggung dan mencoba alat tersebut, ya, ia bahagia.
Aku tak perlu menjadi dokter agar ia bahagia.

Ini yang kuinginkan, menjalani apa yang kusenangi tanpa mengecewakan orang yang kusayang. Allah telah menyiapkan segalanya.

page recommend

oke, aku kali ini mau kasih tau sobat, salah satu page di fb yang sangat menginspirasi ..

DIY Home Decorating.... (https://www.facebook.com/diycozyhome)

Disana banyak sekali cara - cara memanfaatkan barang bekas, membuat suatu karya baru yang luar biasa hanya dari bahan yang biasa, desain interior yang efektif, furniture, sampe dekorasi makanan atau kue yang keren... ^,^ okepunyaaa
 ini beberapa poto nya.. monggo diliat liat


                                           yang ini pemanfaatan barang bekas....



                                                  ini juga


                                              nah yang ini, buat nya dari bahan biasa




 oke cukup sekian dulu yaa, kalau mau keterangan lebih lanjut, klik aja linknya ocre??