Blogger Widgets

Kumau yang Kuinginkan

Friday, 7 March 2014


oke, maaf, ini cerpen masih ababil banget -,-




“Bruakk!”  buku bersampul biru itu dilempar hingga ke ujung pintu. Buku yang berisi perjuangan para siswa yang didapat tiap semester itu ternyata tidak memuaskan ibuku. Nilai 79 pada mata pelajaran biologi menaikkan darahnya, dan membuat seisi rumah hingar – bingar.
“Apa ini? Masa’ nilai biologi tujuh, bodoh!”. Tidak merah memang, namun cukup untuk memanaskan suhu ibu dan membuatnya mengeluarkan kata – kata yang tidak berkasih itu.
“Ibu lihat dulu nilai fisikanya!” belaku. Sedikit iba melihat angka 97 yang diabaikan ibu. Kasihan Kartini yang bersusah payah memperjuangkan emansipasi  wanita. Ternyata perjuangannya yang membuahkan kontroversial dikalangan rakyat itu tidak dihargai ibuku. Aku tahu alasannya, namun ia mencoba menutup – nutupi.
“Kamu tuh cewek, tidak pantas untuk bekerja dibidang fisika. Perempuan itu baiknya menjadi dokter. Hilangkanlah pikiranmu untuk menjadi pakar fisika itu! Kamu sebentar lagi lulus, jadi sudah sepantasnya memikirkan masa depanmu!” bentakan keras itu masih terdengar syahdu di telinga. Aku sadar, dia yang sudah kehilangan kekencangan kulit itu haruslah dituruti pintanya. Belum lagi jika diingat perjuangannya membesarkan aku dan adikku tanpa ayah.
Bukan salah ayah yang meninggalkan kami bertiga hidup dalam kelam dunia. Dia hanya ceroboh dalam bekerja, hingga mengundang malaikat Izrail menunaikan tugasnya. Ya, dia memang ayahku, yang menuruni gen fisika-nya.
“Pokoknya kamu harus masuk fakultas kedokteran!” ibu memaksa dan tidak memberikan pilihan lain bagiku. Aku terpojok, dan mencoba memahami keinginan ibu yang sesungguhnya, yaitu tidak ingin aku berakhir seperti ayah.
Semester 2 kujalani dengan ikhlas dan berserah diri, mencoba memahami maksud tersembunyi dari hati dan naluri seorang ibu. Seorang ibu selalu menginginkan yang terbaik bagi anak – anaknya. Aku ingat, betapa ibu rela membelikan kami baju baru pada hari raya, walaupun ia mengenakan pakaian yang sobek pada lengan kanannya. Dan membiarkan kami makan terlebih dahulu sedangkan ia melahap sisa – sisanya. Seperti cerita – cerita dalam film di televisi, dimana keluarga yang ditinggalkan kepala keluarganya jatuh miskin dan ibunya harus bersusah payah untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
aUAN menunggu di 3 bulan ke depan. Aku cemas, takut jika tidak dapat memenuhi keinginan ibu. Kuurungkan tiap mimpi yang berhubungan dengan rahasia sifat – sifat benda itu, dan kuganti dengan bayangan – bayangan indah menangani pasien, dan memperbaiki letak anggota tubuh manusia pada yang seharusnya.

***
Pagi – pagi sekali, aku bersama 3 orang temanku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Aku yakin ini bukan panggilan atas nama hukuman, karena wajah ramah Ibu Rahimah pagi ini tidak membuatku berpikiran negatif.
“ Khoir, Hasan, Husna...” suara Pak Muslim yang berat mengawali perbincangan hangat kami pagi ini. Mula – mula ia bertanya mengenai cita – cita kami masing – masing, lalu memberi kami motivasi yang cukup tinggi. Aku salut, dalam usianya  yang sudah menghasilkan uban itu, ia masih berdedikasi tinggi. Tak heran, sekolah kami langsung mencuat dan diketahui keberadaannya sejak kepemimpinan Pak Muslim.
Dalam perbincangan singkat itu, Pak Muslim memberitahu bahwa masing – masing dari kami sudah menerima undangan dari universitas negeri. Hasan diterima di IPB, Husna di Unand, dan aku diterima di ITB, STEI
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku tidak tahu siapa yang membuat pepatah itu, yang jelas jika aku bertemu dia aku akan berterimakasih karena telah menemukan kalimat yang tepat bagi perasaanku saat ini. Seketika perasaan meluap berbunga terganti dengan perasaan bimbang tingkat tinggi. Aku tak sanggup memberi tahu ibu. Menghadapi kenyataan bahwa ibuku seorang penjahit tua yang sudah mulai tertarik kulitnya oleh gravitasi. Persaingan pasar tak dapat dimenangkannya, karena keterbatasan modal dan tenaga. Dan satu –satunya kebahagiaan baginya adlah dengan aku menjadi dokter.
Ku jeruji dalam – dalam impianku dan mencoba membuka buku campbell jilid 2 pinjaman perpustakan kota.
***
Pensil, penghapus, dan beberapa instrument belajar lainnya merupakan alat perang yang membantu dalam Ujian Nasional ku kali ini. Memulainya dengan basmalah merupakan keseharian yang tidak boleh ditinggalkan, karena sesuatu tanpa ridho Allah akan berakhir dengan tidak menyenangkan.
***
Sudah kukatakan, namun ibu kukuh dengan jawabannya.
“Tidak. Kamu, kan sudah tahu jawaban ibu! Kamu harus bisa masuk fakultas kedokteran. Ibu akan berusaha mencari uang untukmu.”
“Bu, tapi Maul harus masuk SMP, Bu. Dengan masuk universitas itu, Khoir akan meringankan beban Ibu.” Aku masih mencoba berkilah dan menjelaskan sisi positif argumenku. Perdebatan berakhir dengan kekalahanku.
Aku lulus, UAN berakhir dan aku puas. Tekad ibu untuk memasukkanku ke fakultas kedokteran tak tanggung – tanggung. Ia rela menggadaikan anting untuk mendapat biaya bagi tes “fakultas kedokteranku”. Berkali – kali tes kujalani, dan aku menangis mendapati nasibku. Masyarakat berekonomi rendah bagai tidak diberi kesempatan untuk bersekolah, dengan biaya masuk ratusan juta ibuku menyerah. Ibu memberi kesempatan bagiku menempuh jalan yang kuinginkan.
“ibu, bertahun – tahun Khoir menanti ini, menanti ibu merestui keinginan Khoir” aku sedu terharu. Bukan, ibu bukan mengizinkan, hanya membiarkanku merasakan bangku kuliah. Tapi tak apa, itu cukup.
***
Disini aku sekolah, ITB, universitas terkemuka di Indonesia. Aku bangga dan tak kupungkiri bahwa ini sangat kunikmati
Sehari – hari aku bekerja paruh waktu di sebuah toko elektronik. Tentunya aku merahasiakan dari ibuku, dengan mengatakan aku bekerja di sebuah rumah makan padang.
Inilah dunia yang kugeluti sekarang, membahagiakan sungguh karena datang dari hati. Tak ada lagi yang memaksaku membaca buku campbell yang bahkan membuat minusku bertambah.
***
Sebentar lagi penyusunan skripsi, aku menelepon ibuku untuk mengobati rasa rindu yang kudera selama beberapa bulan ini. Dari sini, ku tekan  tombol – tombol berisi angka – angka penuh harap itu.
Selama beberapa waktu, dari seberang sana seorang ibu – ibu yang kutahu bukan ibuku menjawab teleponku.
“Loh, mbak Khoir tidak tahu, ya? Ibu sudah 2 bulan ini gak bisa jalan, stroke” sontak aku kaget dan buru – buru meminta ibu itu untuk menghubungkan kepada ibuku.
“Sudah ibu bilang dulu, kamu jadi dokter aja, biar bisa ngobatin ibu. Kamu tidak serius belajarnya, sampai gak dapat beasiswa di kedokteran. Sekarang kamu bisa apa? Bisa ngobatin ibu?” ringkih ibu mengadu, aku terkikis, remuk hati rasanya.
Aku tidak bisa konsentrasi memikirkan cara untuk dapat membantu ibu. Skripsiku selesai, aku pulang ke rumah setelah melewati sidang – sidang yang melelahkan.
***
Ku buka pintu reot perlahan dan menghasilkan derik – derik kecil mengerikan.
“Bu, selama beberapa bulan ini Khoir sedang menyelesaikan skripsi, dan bulan depan Khoir wisuda. Ibu datang, ya? Nanti ongkosnya Khoir siapin.”
“Ya,” jawaban singkat ibu melonggarkan ketegangan dadaku yang sempat turun naik tak berirama.



Tiba di hari itu, hari dimana aku mengenakan toga, dan mendengar ceramah berjam – jam lamanya dalam ruangan ber AC. Ibu mengiringiku, dia turut membawa adikku yang kini duduk di bangku SMA. Dia mengenakan pakaian terbaiknya dan duduk di kursi roda tua, yang ia beli di pasar loakan. Setelah ini, aku tak bingung melanjutkan pendidikanku, karena sesungguhnya aku sudah mendapat tawaran untuk mengenyam pendidikan lanjutan di Nanyang University, Singapore. Dan aku masih ragu karena ibuku masih bersikeras terhadap prinsipnya itu.
*Beberapa tahun kemudian*
Tiba saat dimana aku dipanggil dengan nilai lulusan kedua terbaik, semua hadirin bertepuk tangan. Aku menyelesaikan skripsiku, sekaligus penemuanku yang pertama, kursi roda dengan pengendalian pikiran.
“Semua untuk ibu, untuk membantu meringankan kesusahannya. Aku menciptakan ini saat memikirkan ibu.” Sepotong kata yang keluar dari mulutku ini rasanya cukup untuk melepas bendungan waduk air mata ibu. Ia terharu. Aku mengajaknya ke panggung dan mencoba alat tersebut, ya, ia bahagia.
Aku tak perlu menjadi dokter agar ia bahagia.

Ini yang kuinginkan, menjalani apa yang kusenangi tanpa mengecewakan orang yang kusayang. Allah telah menyiapkan segalanya.

0 comments:

Post a Comment