oke, maaf, ini cerpen masih ababil banget -,-
“Bruakk!” buku bersampul biru itu dilempar hingga ke
ujung pintu. Buku yang berisi perjuangan para siswa yang didapat tiap semester
itu ternyata tidak memuaskan ibuku. Nilai 79 pada mata pelajaran biologi menaikkan
darahnya, dan membuat seisi rumah hingar – bingar.
“Apa
ini? Masa’ nilai biologi tujuh, bodoh!”.
Tidak merah memang, namun cukup untuk memanaskan suhu ibu dan membuatnya
mengeluarkan kata – kata yang tidak berkasih itu.
“Ibu
lihat dulu nilai fisikanya!” belaku. Sedikit iba melihat angka 97 yang diabaikan
ibu. Kasihan Kartini yang bersusah payah memperjuangkan emansipasi wanita. Ternyata perjuangannya yang
membuahkan kontroversial dikalangan rakyat itu tidak dihargai ibuku. Aku tahu
alasannya, namun ia mencoba menutup – nutupi.
“Kamu
tuh cewek, tidak pantas untuk bekerja
dibidang fisika. Perempuan itu baiknya menjadi dokter. Hilangkanlah pikiranmu
untuk menjadi pakar fisika itu! Kamu sebentar lagi lulus, jadi sudah
sepantasnya memikirkan masa depanmu!” bentakan keras itu masih terdengar syahdu
di telinga. Aku sadar, dia yang sudah kehilangan kekencangan kulit itu haruslah
dituruti pintanya. Belum lagi jika diingat perjuangannya membesarkan aku dan
adikku tanpa ayah.
Bukan
salah ayah yang meninggalkan kami bertiga hidup dalam kelam dunia. Dia hanya
ceroboh dalam bekerja, hingga mengundang malaikat Izrail menunaikan tugasnya.
Ya, dia memang ayahku, yang menuruni gen fisika-nya.
“Pokoknya
kamu harus masuk fakultas kedokteran!” ibu memaksa dan tidak memberikan pilihan
lain bagiku. Aku terpojok, dan mencoba memahami keinginan ibu yang sesungguhnya,
yaitu tidak ingin aku berakhir seperti ayah.
Semester
2 kujalani dengan ikhlas dan berserah diri, mencoba memahami maksud tersembunyi
dari hati dan naluri seorang ibu. Seorang ibu selalu menginginkan yang terbaik
bagi anak – anaknya. Aku ingat, betapa ibu rela membelikan kami baju baru pada
hari raya, walaupun ia mengenakan pakaian yang sobek pada lengan kanannya. Dan
membiarkan kami makan terlebih dahulu sedangkan ia melahap sisa – sisanya.
Seperti cerita – cerita dalam film di televisi, dimana keluarga yang
ditinggalkan kepala keluarganya jatuh miskin dan ibunya harus bersusah payah
untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
aUAN menunggu di 3
bulan ke depan. Aku cemas, takut jika tidak dapat memenuhi keinginan ibu. Kuurungkan
tiap mimpi yang berhubungan dengan rahasia sifat – sifat benda itu, dan kuganti
dengan bayangan – bayangan indah menangani pasien, dan memperbaiki letak
anggota tubuh manusia pada yang seharusnya.
***
Pagi
– pagi sekali, aku bersama 3 orang temanku dipanggil ke ruang kepala sekolah.
Aku yakin ini bukan panggilan atas nama hukuman, karena wajah ramah Ibu Rahimah
pagi ini tidak membuatku berpikiran negatif.
“
Khoir, Hasan, Husna...” suara Pak Muslim yang berat mengawali perbincangan
hangat kami pagi ini. Mula – mula ia bertanya mengenai cita – cita kami masing
– masing, lalu memberi kami motivasi yang cukup tinggi. Aku salut, dalam
usianya yang sudah menghasilkan uban itu,
ia masih berdedikasi tinggi. Tak heran, sekolah kami langsung mencuat dan
diketahui keberadaannya sejak kepemimpinan Pak Muslim.
Dalam
perbincangan singkat itu, Pak Muslim memberitahu bahwa masing – masing dari
kami sudah menerima undangan dari universitas negeri. Hasan diterima di IPB,
Husna di Unand, dan aku diterima di ITB, STEI
Pucuk dicinta ulam pun
tiba. Aku tidak tahu siapa yang membuat pepatah itu, yang jelas jika aku
bertemu dia aku akan berterimakasih karena telah menemukan kalimat yang tepat
bagi perasaanku saat ini. Seketika perasaan meluap berbunga terganti dengan
perasaan bimbang tingkat tinggi. Aku tak sanggup memberi tahu ibu. Menghadapi
kenyataan bahwa ibuku seorang penjahit tua yang sudah mulai tertarik kulitnya
oleh gravitasi. Persaingan pasar tak dapat dimenangkannya, karena keterbatasan
modal dan tenaga. Dan satu –satunya kebahagiaan baginya adlah dengan aku
menjadi dokter.
Ku
jeruji dalam – dalam impianku dan mencoba membuka buku campbell jilid 2
pinjaman perpustakan kota.
***
Pensil,
penghapus, dan beberapa instrument belajar lainnya merupakan alat perang yang
membantu dalam Ujian Nasional ku kali ini. Memulainya dengan basmalah merupakan
keseharian yang tidak boleh ditinggalkan, karena sesuatu tanpa ridho Allah akan
berakhir dengan tidak menyenangkan.
***
Sudah
kukatakan, namun ibu kukuh dengan jawabannya.
“Tidak.
Kamu, kan sudah tahu jawaban ibu! Kamu harus bisa masuk fakultas kedokteran.
Ibu akan berusaha mencari uang untukmu.”
“Bu,
tapi Maul harus masuk SMP, Bu. Dengan masuk universitas itu, Khoir akan
meringankan beban Ibu.” Aku masih mencoba berkilah dan menjelaskan sisi positif
argumenku. Perdebatan berakhir dengan kekalahanku.
Aku
lulus, UAN berakhir dan aku puas. Tekad ibu untuk memasukkanku ke fakultas kedokteran
tak tanggung – tanggung. Ia rela menggadaikan anting untuk mendapat biaya bagi
tes “fakultas kedokteranku”. Berkali – kali tes kujalani, dan aku menangis
mendapati nasibku. Masyarakat berekonomi rendah bagai tidak diberi kesempatan
untuk bersekolah, dengan biaya masuk ratusan juta ibuku menyerah. Ibu memberi
kesempatan bagiku menempuh jalan yang kuinginkan.
“ibu,
bertahun – tahun Khoir menanti ini, menanti ibu merestui keinginan Khoir” aku
sedu terharu. Bukan, ibu bukan mengizinkan, hanya membiarkanku merasakan bangku
kuliah. Tapi tak apa, itu cukup.
***
Disini aku sekolah,
ITB, universitas terkemuka di Indonesia. Aku bangga dan tak kupungkiri bahwa
ini sangat kunikmati
Sehari – hari aku
bekerja paruh waktu di sebuah toko elektronik. Tentunya aku merahasiakan dari
ibuku, dengan mengatakan aku bekerja di sebuah rumah makan padang.
Inilah
dunia yang kugeluti sekarang, membahagiakan sungguh karena datang dari hati.
Tak ada lagi yang memaksaku membaca buku campbell yang bahkan membuat minusku
bertambah.
***
Sebentar
lagi penyusunan skripsi, aku menelepon ibuku untuk mengobati rasa rindu yang
kudera selama beberapa bulan ini. Dari sini, ku tekan tombol – tombol berisi angka – angka penuh
harap itu.
Selama
beberapa waktu, dari seberang sana seorang ibu – ibu yang kutahu bukan ibuku
menjawab teleponku.
“Loh,
mbak Khoir tidak tahu, ya? Ibu sudah 2 bulan ini gak bisa jalan, stroke” sontak aku kaget dan buru – buru meminta
ibu itu untuk menghubungkan kepada ibuku.
“Sudah
ibu bilang dulu, kamu jadi dokter aja, biar bisa ngobatin ibu. Kamu tidak
serius belajarnya, sampai gak dapat beasiswa di kedokteran. Sekarang kamu bisa
apa? Bisa ngobatin ibu?” ringkih ibu mengadu, aku terkikis, remuk hati rasanya.
Aku
tidak bisa konsentrasi memikirkan cara untuk dapat membantu ibu. Skripsiku
selesai, aku pulang ke rumah setelah melewati sidang – sidang yang melelahkan.
***
Ku
buka pintu reot perlahan dan menghasilkan derik – derik kecil mengerikan.
“Bu,
selama beberapa bulan ini Khoir sedang menyelesaikan skripsi, dan bulan depan
Khoir wisuda. Ibu datang, ya? Nanti ongkosnya Khoir siapin.”
“Ya,”
jawaban singkat ibu melonggarkan ketegangan dadaku yang sempat turun naik tak
berirama.
Tiba
di hari itu, hari dimana aku mengenakan toga, dan mendengar ceramah berjam –
jam lamanya dalam ruangan ber AC. Ibu mengiringiku, dia turut membawa adikku
yang kini duduk di bangku SMA. Dia mengenakan pakaian terbaiknya dan duduk di
kursi roda tua, yang ia beli di pasar loakan. Setelah ini, aku tak bingung
melanjutkan pendidikanku, karena sesungguhnya aku sudah mendapat tawaran untuk
mengenyam pendidikan lanjutan di Nanyang University, Singapore. Dan aku masih
ragu karena ibuku masih bersikeras terhadap prinsipnya itu.
*Beberapa
tahun kemudian*
Tiba
saat dimana aku dipanggil dengan nilai lulusan kedua terbaik, semua hadirin
bertepuk tangan. Aku menyelesaikan skripsiku, sekaligus penemuanku yang
pertama, kursi roda dengan pengendalian pikiran.
“Semua
untuk ibu, untuk membantu meringankan kesusahannya. Aku menciptakan ini saat
memikirkan ibu.” Sepotong kata yang keluar dari mulutku ini rasanya cukup untuk
melepas bendungan waduk air mata ibu. Ia terharu. Aku mengajaknya ke panggung
dan mencoba alat tersebut, ya, ia bahagia.
Aku
tak perlu menjadi dokter agar ia bahagia.
Ini
yang kuinginkan, menjalani apa yang kusenangi tanpa mengecewakan orang yang kusayang.
Allah telah menyiapkan segalanya.
0 comments:
Post a Comment