Blogger Widgets

monggo dilirik

Friday, 7 March 2014

                                              ALHAMDULILLAH
   
                


14 Februari 2001
 Diary
Hari ini kamu tahu, kan? Hari ini adalah hari valentine, hari dimana banyak orang berbagi kasih sayang. Tapi sebenarnya aku kurang setuju, sih. Soalnya kita harus berbagi kasih sayang setiap hari, jangan hanya di hari valentine. Kamu setuju juga, kan? Oya, diary, tadi ada cowok yang mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku senang sekali. Dia memberiku coklat dan permen manis.
            Kasih sayang ? Apa itu kasih sayang ? Sejenis makanan atau minuman?  Berbagi kasih sayang? Kasih sayang itu enak, ya ? Aku belum pernah mencicipnya. Aku ingin membelinya, sepertinya gadis ini sangat senang mendapatkan kasih sayang. Mengungkapkan perasaan ? Apakah perasaan hendak membunuhnya ? Tapi mengapa gadis ini senang, dan lelaki itu juga memberinya coklat? Seumur hidup aku belum pernah diberi coklat oleh seseorang. Dulu aku mendapatkan coklat dari hasil kerjaku di pabrik nuklir kota ini selama 1 hari penuh. Bodoh sekali lelaki itu dengan Cuma – Cuma memberikan coklat pada gadis ini. Mungkin coklat itu adalah perangkap untuk gadis tersebut. Anak bodoh !

4 Juni 2001
Dear diary
Hari ini aku pergi ke dokter gigi untuk mencabut taringku yang terlalu panjang. Aku kesal diary, dari dulu aku diejek oleh teman – temanku karena gigiku yang seperti drakula ini. Tapi syukurlah, sekarang sudah beres. Tadi sebelum dicabut, gusiku disuntik terlebih dahulu sebanyak 3 kali. Kata dokter agar gigiku tidak sakit saat dicabut. Apalagi sekarang aku sudah 14 tahun, jadi dosis obat biusnya harus lebih banyak. Setelah dicabut, aku diberi segelas air untuk kumur – kumur. Tadi, hampir saja aku lupa untuk membuang air itu, aku hampir menelannya.
            Dokter gigi? Dokter gigi tidaklah bertugas mencabut gigi. Dulu dokter gigi bertugas memasang gigi palsu, dan sekarang di kotaku tidak ada dokter gigi. Daripada menjadi dokter gigi, pasti mereka berpikir lebih baik mencari makan untuk bertahan tetap hidup sampai esok hari. Untuk apa dia mencabut gigi pada usia 14 tahun ? Hal yang kuingat, aku terakhir kali punya gigi asli adalah saat aku berumur 12 tahun. Gigi asli memang tidak tahan, mudah bolong dan mudah patah. Sangat tidak efektif untuk mengunyah daging. Bukankah lebih baik jika menggantinya dengan gigi palsu dari logam, lebih tahan, lebih kuat dan yang terpenting tidak perlu digosok. Membuang air ? Bodoh sekali dia. Kalau aku tentu langsung kuminum tanpa pikir – pikir. Untuk menemukan air saja sangat susah, dia dengan mudahnya membuang air. Anak bodoh !

7 September2001
Diary !
Hari ini rumahku kebanjiran. Itulah resiko kalau kita tinggal di rumah dekat sungai. Kalau musim hujan, air akan melimpah dan rumah kita kena banjir. Tadi banyak anak – anak tetangga malah berenang di air banjir, padahal kan airnya kotor. Tapi kalau begitu, pasti untung bagi dokter kulit. Mengobati orang – orang yang kulitnya gatal – gatal terkena air kotor, aku mau menjadi dokter kulit saat aku dewasa nanti.
            Banjir ? Apa lagi ini ? Apakah banjir adalah air yang banyak ? Jika ia, tolong kirim ke rumahku. Jangan diberikan ke kotaku karena pasti akan dicuri. Musim hujan ? Yang kutahu musim hujan hanya terjadi di negeri – negeri dongeng. Ada satu cerita yang sangat kusenangi saat aku berumur 4 tahun, cerita dongeng “ Putri dan Pangeran Katak “ yang menceritakan negeri tersebut selalu dihujani air setiap saat. Aku berharap dapat bertemu hujan sesering itu, dan melihat katak seperti putri tersebut. Tak penting katak itu pangeran atau tidak, orang yang dapat melihat katak adalah termasuk orang yang sangat beruntung. Makhluk air sudah sangat langka di kota ini, banyak yang sudah punah.        
Lembaran – lembaran diary gadis ini penuh dengan kisah – kisah mustahil. Apakah ini sebuah buku dongeng yang dibuat iseng oleh seorang gadis 14 tahun ? Kusimpan rapi – rapi buku diary dengan tulisan “ Jangan dibuka, diary Ratih “ pada sampul depan berwarna merah pekat yang sudah mulai pudar dimakan usia. Ujung – ujung lembaran yang rapuh menjadi saksi bisu sejarah kehidupan gadis bernama “ Ratih “.
Kucoba menghisap udara panjang – panjang. Jumlah oksigen di atmosfir sekarang tidak lebih dari 10 %, jadi sepanjang apapun nafas yang kuhirup tidak akan pernah memuaskan paru – paru.
***
“ Yoko ! Mengapa kamu terlambat ? “ Aduh, bagaimana ini ? Aku terlambat 15 detik, jangan – jangan atasanku akan mengurangi jatah air bersihku. Ah, jatah air bersihku tahun lalupun ia potong tanpa alasan. Atasanku selalu saja ada alasan untuk mengurangi jatah air bersih pegawainya. Aku ingat sekali saat ada salah satu rekanku dipotong jatah air bersihnya, padahal dia sangat loyal di pabrik. Sertifikat lulusan S3 terbaiknya di salah satu universitas terbaik di Indonesia tidak dipikirkan saat pemotongan jatah tersebut. Apapun akan dilakukan bosku untuk mendapatkan keuntungan sebesar – besarnya.
“ Maaf, Pak. Tadi saya pergi ke bank air untuk mengambil persediaan air. “ Tidak, aku bahkan tidak punya stok di bank air sama sekali.
“ Ah, banyak alasan ! Jatah tahunan kamu dipotong setengah liter !” kalimat singkat mengakhiri dialog panas kami berdua. Pabrik ini termasuk pabrik yang paling banyak diinginkan ilmuwan sepertiku untuk bekerja. Sedikit dari sekian pabrik di kota ini yang mau memberikan jatah air bersih, biasanya kami harus membelinya. Atas dasar ini, aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku kembali bekerja.
Di dalam pabrik, seluruh rekanku memandang sinis. Mereka turut marah atas keterlambatanku, yang mengakibatkan pekerjaan mereka bertambah. Dulu, seluruh pekerjaan dikerjakan oleh robot bertenaga baterai, listrik, dan surya. Namun sekarang semenjak minyak bumi semakin langka, pabrik – pabrik kembali menggunakan jasa dan tenaga manusia. Sistem perekrutan sangat ketat, para pekerja di pabrik ini adalah ilmuwan terkemuka dan merupakan lulusan terbaik di universitasnya. Ya, kami para ilmuwan terbaik hanya menjadi buruh di pabrik ini.
Aku pun salah satu lulusan terbaik Universitas Cendekia, dengan IP sempurna 4,00. Dengan mudah kutuliskan thesisku dalam batu tulis. Kertas ? Kalian pikir kami memakai kertas ? kertas terakhir kali dipakai 60 tahun lalu. Kini seluruh pohon digunakan sebagai bahan baku pelindung kulit dari radiasi sinar ultra violet. Pohon tersebut diambil sarinya, dan akan dibuat dalam betuk krim.
Lulus S2 pada usia 17 tahun tidak menjamin kehidupanku di abad 24. Para mahasiswa lulusan S1 hanya akan menjadi penjahat manusia, pencopet, maling, pembunuh. Pelecehan seksual ? Di zaman ini tidak ada, kita tidak perlu memaksa wanita untuk melakukan tindakan asusila tersebut, karena wanita di zaman ini tidaklah ada harganya sama sekali. Malah mereka yang akan memohon – mohon pada lelaki yang jumlahnya kini hanya sedikit.
Dengan gaji 3,5 liter minyak bumi per bulannya, kami harus bisa mencukupkan kebutuhan kami. Di tahun 2367, bukan orang pintar yang dapat menguasai dunia. Melainkan orang yang memegang banyak benda langka, yaitu yang paling banyak memiliki air bersih, minyak bumi, oksigen kalengan, dan daging. Jika tidak, kamu harus lebih kuat dari yang lain untuk merebut apa yang ia punya, hukum rimba berlaku “ yang terkuat, bertahan.”
Setelah 16 jam yang melelahkan, aku pulang kembali ke rumah. Bukan rumah sesungguhnya, hanya sebuah kotak berisi tempat tidur yang biasa kami sebut sleepbox. Kudayung sepeda tua hasil aku menabung gaji bertahun – tahun lamanya. Berjalan mengitari jalan aspal yang mulai menipis seiring sulitnya minyak bumi ditemukan.
Di tengah perjalanan aku dihadang oleh 3 gadis muda bertubuh kurus dan kusut. Dengan tatapan iba mereka datang menghampiriku perlahan. Seketika aku takut dan memacu sepeda sekencang – kencangnya, tak urung mereka pun ikut berlari. Aku takut mereka lebih marah dan membunuhku, akhirnya kuputuskan untuk berhenti dan berdialog sejenak.
“ Ada apa ? Saya tidak punya apa – apa untuk diberi. Saya tidak punya apa – apa untuk dicuri. Daging tubuh saya pun sedikit, jadi rugi bagi anda untuk membunuh saya. “ tak ragu – ragu kudeskripsikan kekuranganku. Mereka tidak berekspresi, tampaknya mereka tidak terlalu mendengar apa yang kujelaskan.
“ Tidak. Tidak perlu kau serahkan dagingmu, cukup kau hamili saja kami bertiga dan kau akan bebas. ” gadis yang sepertinya paling tua diantara mereka memulai perbincangan.
“ Ya, kami ingin kau menghamili kami. Agar bayi yang kami lahirkan nanti dapat kami makan.” Gadis kedua meneruskan.
“ Kami tidak tahu mencari daging dimana lagi. Apalagi tumbuhan, kalau ada rumput pun akan kami makan.” Gadis ketiga tampaknya tidak bersahabat, ia mendorong stang sepedaku ke arah kiri hingga ia dapat lebih dekat denganku.
“ Tidak, aku tidak mau. Kalian cari saja laki – laki yang lain. Aku mau tidur, besok aku bekerja.” Kuhardik mereka terang – terangan, namun seperti yang sudah kujelaskan tadi mereka kini tidaklah memiliki harga sama sekali. Mereka tidak peduli mereka dilecehkan atau tidak, yang penting mereka bertahan hidup. Walaupun hidup dengan memakan bayi mereka sendiri.  Tatapan mereka yang semula kosong semu tanpa ekspresi kini berubah menjadi tajam dan penuh benci. Aku sudah hafal dengan perilaku wanita zaman kini, jika keinginan mereka tidak dipenuhi, maka ia akan membunuh mangsa mereka tersebut untuk diambil dagingnya. Kupacu sepeda sekencang – kencangnya hingga salah seorang dari gadis tersebut jatuh kudorong. Belum sempat sampai di rumah, aku melihat lagi peristiwa “zaman kini” lainnya. Seorang nenek memotong leher cucu perempuannya untuk diminum darahnya. Aku tidak ingin melihatnya, bukan karena takut. Pembantaian manusia sudah merupakan tontonan biasa saat ini, namun aku benar – benar mengantuk dan ingin tidur.
Kututup sleepbox perlahan, dan kuraih kembali buku harian kuno yang kucuri 3 hari lalu dari museum. Kucari halaman yang terakhir kubaca.

20 Desember 2001
Dear diary
Tadi teman sekelasku mengajak pergi ke sawah di belakang sekolah. Aku pulang terlambat ke rumah, dan bajuku kotor oleh lumpur. Seperti yang kuduga, ibuku pasti marah saat aku pulang dalam keadaan begini. Lagi – lagi hari ini aku kesal. Ibu, mengapa ibu selalu marah – marah? Aku tidak mau makan sayur saja, ibu sudah marah – marah. Ibu bilang aku seperti anak – anak. Aku kan masih 14 tahun, jadi wajar saja kalau tingkahku masih seperti anak – anak.
            Jika hidup berdasar keinginan, aku ingin hidup di abad 21. Anak bukanlah sesuatu yang harus dibuang karena dianggap merepotkan. Anak bukanlah sesuatu yang sengaja kau lahirkan untuk kau makan. Anak ini tentu sangat bodoh, dia tidak mau makan sayur yang diberikan oleh ibunya dengan percuma. Jangankan sayur, rumput segar pun aku mau jika diberi secara gratis.
Cepat – cepat kututup buku itu dan kugosokkan perlahan spon ke tubuhku agar seluruh kotoran keluar. Mandi ? kalian pikir kami mandi ? Mandi adalah sesuatu tindakan kriminal disini, karena menghamburkan air. Bagi siapa yang menghamburkan air, akan langsung dikenakan hukuman. Tapi kalian tak perlu repot – repot membaca buku hukum, karena jika kalian hidup di zaman ini, kalian akan tahu betapa berharganya air.
Hani menyudahi cerpennya sembari merenung.
“ Ah, seandainya aku menjadi Yoko dan hidup di zamannya, aku pasti bunuh diri. Aku tidak sanggup tinggal di bumi yang berisi manusia dengan rata – rata usia hidup 20 tahun itu. Alhamdulillah aku hidup di tahun 2012 yang sumber daya alamnya masih dapat mencukupi kebutuhanku.” Hani berkata dalam hati. Cerpennya masih belum rampung, hanya ¾ bagian yang ia selesaikan hari ini.
Hani mengambil secarik kertas lusuh dan menitikkan beberapa tetes tinta :
Aku bersyukur hidup di masa air masih bisa didapat, cukup memutar keran air saja.
Aku bersyukur hidup di masa minyak masih bisa didapat, cukup pergi ke pangkalan minyak saja.
Aku bersyukur masih hidup dimana menu makanan bukanlah sekedar daging mentah, cukup meminta pada ibu saja.
Aku bersyukur membuat cerpen ini, membuatku sadar akan kehidupan manusia kelak.

Hani beranjak dari kursi tua yang meninggalkan derik kecil saat duduk diatasnya. Seketika ia berjalan ke kamar, menutup semua keran air dan mematikan semua lampu.

0 comments:

Post a Comment