Sobat inspirator, kali ini aku mau ngepost sebuah cerpen yang sempat aku buat pas aku masih kelas 1. cekidot sobat ...
DIA DISINI
DIA DISINI
Ini sudah yang kesekian kalinya aku
mengikutkan Olin pada permasalahanku. Disini, di SMAN 3 Jambi, hukum amat
ditegakkan. Kami akan menghadapi suatu sidang yang merepotkan jika melanggarnya.
Sebagai murid kelas X, aku bersikap layaknya anak baik dan polos yang tidak
memberontak, kuikuti setiap butir – butir peraturan yang ada. Aku tidak ingin
masuk ke sebuah ruangan 2X3 dan menghadapi tatapan – tatapan sinis para guru
serta hujan pertanyaan yang berusaha menyudutkanku. Masih banyak hal yang harus
ditakutkan disini, itu hanya sebagian kecil. Untuk alasan itu, Rendi, kakak
kelasku yang sekarang sedang menghadapi ujian akhir sekolah, selalu meminta
bantuanku untuk menyampaikan pesan – pesannya pada Rina, teman sekelasku. Agaknya
ia khawatir jika menyampaikannya sendiri.
Rina anak yang baik, ia tidak mau
memenuhi permintaan kak Rendi untuk bertemu di belakang kelasnya. Ia selalu
berusaha menolak permintaan kak Rendi dengan halus agar kak Rendi tidak
tersinggung. Oleh sebab itulah, aku menyukainya sejak 3 bulan pertama kami
disini. Rina tidak membiarkan temannya menangis, dan selalu menyemangati teman
– teman yang putus asa karena nilai ulangan yang kurang bagus. Rina yang
seperti itu adalah sosok impianku, ia membagi pikiranku menjadi dua saat
belajar kimia, yang bahkan itu adalah pelajaran yang paling kusuka. Aku tidak
dapat lari dari hipnotis matanya yang bulat bersinar, kubiarkan diriku hanyut.
Namun di sisi lain, aku berjanji pada kak Rendi untuk selalu memberitahu
mengenai kabar Rina dan menjaga Rina untuknya.
Pernah suatu ketika, Rina sakit dan
pergi ke poliklinik. Sebagai pembawa berita, aku berkewajiban untuk mengabari
hal ini ke kak Rendi, namun aku tidak rela. Aku tidak sanggup membiarkan pujaan
hatiku berdua dengan lelaki lain. Itu sama halnya dengan menaruh racun kedalam
minumanku. Akhirnya kuputuskan untuk tidak memberitahu hal ini ke kak Rendi. Namun
berita mengenai Rina amat mudah ia dapatkan, dan dari seberang jendela
poliklinik yang dibiarkan terbuka agar udara bebas keluar – masuk, kudapati
mereka berdua tengah mengobrol. Rina tampak cemas, takut jika ketahuan guru, dan
kak Rendi berdiri di pintu dengan muka menenangkan. Kakiku lemas seketika,
namun tetap kucoba berjalan ke kelas dengan sempurna.
Ulangan biologi kali ini terasa tak
berharga bagiku, kujawab seadanya. Perjuanganku tadi malam dengan dua cangkir
kopi terasa tidak ada manfaat sama sekali. Benar apa yang dikatakan Rasulullah,
bahwa wanita termasuk cobaan terberat di dunia. Hanya dengan pertemuan kak
Rendi – Rina, cukup untuk memecah pikiran dan menghilangkan memoriku mengenai
kingdom animalia. Aku sungguh merasakan apa yang dirasakan Bondan Prakoso saat
menciptakan lagu “Bunga”. Ini luka yang tidak berwujud namun membekas.
Bel singkat menandakan berakhirnya
pertarungan kami dengan dunia hewan. Kuserahkan kertas dengan berat, dan beban
kakiku bertambah 5 pon. Kutelusuri koridor sekolah sepanjang istirahat tadi,
tampak kak Rendi sedang mempersiapkan diri untuk ujian berikutnya. Dia bukanlah
orang yang tidak baik, ia tidak pernah meriwayatkan dirinya dengan desas –
desus negatif.
Kepulanganku disambut dengan semangkuk
sayur bayam hangat dan segelas teh buatan ibuku. Ibu adalah perempuan yang baik
dan ramah, yang dapat menaklukannya pastilah orang hebat. Aku tak sabar ingin
bertemu ayah malam ini, untuk menanyakan tips – tipsnya. Namun, sehabis belajar
malam, mataku tak dapat diajak berteman. Kuputuskan untuk rehat malam dan
kuundur dulu keinginanku untuk mewawancarai ayah.
***
Paginya, aku melihat hasil ulangan
biologi yang ditempel di papan pengumuman. Aku tidak terkejut melihat spidol
merah pada nilaiku. Bukan hal pertama nilai 68 kudapatkan. Karena nilai
geografiku kemarin bahkan tidak menembus angka 50. Duniaku benar kacau semenjak
kehadiran cinta. Terkadang aku merindukan masa – masa dimana aku bermain patok
lele bersama Olin dan teman – temanku yang lain. Namun kini dunia terasa
berbeda, cinta tidak dapat dihentikan karena cinta adalah naluri alamiah
manusia sebagai makhluk Allah yang saling berbagi kasih sayang.
“Olin, aku boleh cerita lagi, gak?” pertemuanku dengan Olin di depan
kantin tidak kusia – siakan. Dan aku sempat iri pada Olin yang belum pernah
merasakan cinta, ia masih seperti anak SMP yang suka bermain patok lele.
“Oh... Pasti tentang Rina lagi, kan?
Kenapa? Eh, mau es jeruk, gak?” pertanyaan
tanpa jeda itu menjadi suatu kebiasaan baginya. Tanpa berbasa – basi
kulontarkan niatku untuk menyatakan cinta pada Rina. Dia menyetujui dan mencari
tips mengenai ini di internet dan membagi padaku. Kami sepakat agar aku
melakukannya minggu depan.
***
Pada hari yang dimaksud, aku sudah
menyiapkan mentalku matang – matang. Aku tidak berharap kami berpacaran, karena
itu adalah sebuah pelanggaran tata tertib SMA ku. Namun aku hanya ingin dia
mengetahui apa yang selama ini aku rasakan, kepedihanku saat ia bertemu kak
Rendi. Sekarang aku ingin meminta pendapat Olin, namun ia sedang bermain basket
di lapangan. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil kertas tips menyatakan cinta
yang tiga hari lalu ia print. Kubuka kertas putih itu perlahan, ternyata itu
bukan kertas yang kumaksud. Kertas putih itu bertuliskan :
Aku
Disini
Cerita
Putri Rinamu, kunai bagiku. Mengoyak jiwa perlahan.
Cerita
cinta sebelah hatimu, racun bagiku. Lumpuhkan raga seiring waktu.
Tak
ingin kau dapat racun dan kunai yang sama, kubiarkan kau bagi padaku.
Kini
kau buta, tak dapat bedakan warna. Kuberi kau lentera.
Ingin kau kutuntut di pengadilan
cinta. Atas dosa menghilangkan logika.
Aku korban yang kau sandera, namun
kubahagia.
Atas penyanderaan tanpa rencana, aku
berterimakasih padamu.
Kurasakan cinta pada 15 tahun
umurku, Pandu...
Jantungku berdebar kencang, aku
tersadar. Selama ini terlalu sibuk dengan urusan cintaku pada Rina, tanpa
kuindahkan kehadiran Olin. Inderaku tidak peka, atas gelombang perasaan yang
tulus ini.
Aku berlari mencari Olin, aku tak
sabar untuk segera meraihnya. Buru – buru aku menerobos pagar pembatas lapangan
hingga tak sadar bahwa lenganku memar. Kudapati Olin tengah duduk di kursi kayu
merenung sendiri, ternyata ia tidak bermain basket. Kuraih segera tangannya
yang dingin.
“Olin, maafkan aku. Aku biarkan kamu
sakit sendiri. Bagilah kepedihanmu sedikit padaku.” mataku berkaca – kaca. Ia tampak
masih belum mengerti.
“Maafkan aku.” Untuk kesekian
kalinya aku meminta maaf pada Olin. Pada kalimat terakhir ini, kulampiaskan
dengan memeluknya. Sepertinya sangat lama, karena kami tidak sadar bahwa
seorang guru telah berdiri di samping kami.
Akhirnya kami masuk ke ruangan 2X3 yang
paling ditakuti itu. Tapi kali ini berbeda, kami memasukinya dengan wajah
senyum malu – malu. Dan kami mendapat
ganjaran skors 3 hari atas perbuatan frontal kami.
The----^__^----End
0 comments:
Post a Comment