Blogger Widgets

cerpen :3

Friday, 7 March 2014

Sobat inspirator, kali ini aku mau ngepost sebuah cerpen yang sempat aku buat pas aku masih kelas 1. cekidot sobat ...

                                                      DIA DISINI


Ini sudah yang kesekian kalinya aku mengikutkan Olin pada permasalahanku. Disini, di SMAN 3 Jambi, hukum amat ditegakkan. Kami akan menghadapi suatu sidang yang merepotkan jika melanggarnya. Sebagai murid kelas X, aku bersikap layaknya anak baik dan polos yang tidak memberontak, kuikuti setiap butir – butir peraturan yang ada. Aku tidak ingin masuk ke sebuah ruangan 2X3 dan menghadapi tatapan – tatapan sinis para guru serta hujan pertanyaan yang berusaha menyudutkanku. Masih banyak hal yang harus ditakutkan disini, itu hanya sebagian kecil. Untuk alasan itu, Rendi, kakak kelasku yang sekarang sedang menghadapi ujian akhir sekolah, selalu meminta bantuanku untuk menyampaikan pesan – pesannya pada Rina, teman sekelasku. Agaknya ia khawatir jika menyampaikannya sendiri.
Rina anak yang baik, ia tidak mau memenuhi permintaan kak Rendi untuk bertemu di belakang kelasnya. Ia selalu berusaha menolak permintaan kak Rendi dengan halus agar kak Rendi tidak tersinggung. Oleh sebab itulah, aku menyukainya sejak 3 bulan pertama kami disini. Rina tidak membiarkan temannya menangis, dan selalu menyemangati teman – teman yang putus asa karena nilai ulangan yang kurang bagus. Rina yang seperti itu adalah sosok impianku, ia membagi pikiranku menjadi dua saat belajar kimia, yang bahkan itu adalah pelajaran yang paling kusuka. Aku tidak dapat lari dari hipnotis matanya yang bulat bersinar, kubiarkan diriku hanyut. Namun di sisi lain, aku berjanji pada kak Rendi untuk selalu memberitahu mengenai kabar Rina dan menjaga Rina untuknya.
Pernah suatu ketika, Rina sakit dan pergi ke poliklinik. Sebagai pembawa berita, aku berkewajiban untuk mengabari hal ini ke kak Rendi, namun aku tidak rela. Aku tidak sanggup membiarkan pujaan hatiku berdua dengan lelaki lain. Itu sama halnya dengan menaruh racun kedalam minumanku. Akhirnya kuputuskan untuk tidak memberitahu hal ini ke kak Rendi. Namun berita mengenai Rina amat mudah ia dapatkan, dan dari seberang jendela poliklinik yang dibiarkan terbuka agar udara bebas keluar – masuk, kudapati mereka berdua tengah mengobrol. Rina tampak cemas, takut jika ketahuan guru, dan kak Rendi berdiri di pintu dengan muka menenangkan. Kakiku lemas seketika, namun tetap kucoba berjalan ke kelas dengan sempurna.
Ulangan biologi kali ini terasa tak berharga bagiku, kujawab seadanya. Perjuanganku tadi malam dengan dua cangkir kopi terasa tidak ada manfaat sama sekali. Benar apa yang dikatakan Rasulullah, bahwa wanita termasuk cobaan terberat di dunia. Hanya dengan pertemuan kak Rendi – Rina, cukup untuk memecah pikiran dan menghilangkan memoriku mengenai kingdom animalia. Aku sungguh merasakan apa yang dirasakan Bondan Prakoso saat menciptakan lagu “Bunga”. Ini luka yang tidak berwujud namun membekas.
Bel singkat menandakan berakhirnya pertarungan kami dengan dunia hewan. Kuserahkan kertas dengan berat, dan beban kakiku bertambah 5 pon. Kutelusuri koridor sekolah sepanjang istirahat tadi, tampak kak Rendi sedang mempersiapkan diri untuk ujian berikutnya. Dia bukanlah orang yang tidak baik, ia tidak pernah meriwayatkan dirinya dengan desas – desus negatif.
Kepulanganku disambut dengan semangkuk sayur bayam hangat dan segelas teh buatan ibuku. Ibu adalah perempuan yang baik dan ramah, yang dapat menaklukannya pastilah orang hebat. Aku tak sabar ingin bertemu ayah malam ini, untuk menanyakan tips – tipsnya. Namun, sehabis belajar malam, mataku tak dapat diajak berteman. Kuputuskan untuk rehat malam dan kuundur dulu keinginanku untuk mewawancarai ayah.
***
Paginya, aku melihat hasil ulangan biologi yang ditempel di papan pengumuman. Aku tidak terkejut melihat spidol merah pada nilaiku. Bukan hal pertama nilai 68 kudapatkan. Karena nilai geografiku kemarin bahkan tidak menembus angka 50. Duniaku benar kacau semenjak kehadiran cinta. Terkadang aku merindukan masa – masa dimana aku bermain patok lele bersama Olin dan teman – temanku yang lain. Namun kini dunia terasa berbeda, cinta tidak dapat dihentikan karena cinta adalah naluri alamiah manusia sebagai makhluk Allah yang saling berbagi kasih sayang.
“Olin, aku boleh cerita lagi, gak?” pertemuanku dengan Olin di depan kantin tidak kusia – siakan. Dan aku sempat iri pada Olin yang belum pernah merasakan cinta, ia masih seperti anak SMP yang suka bermain patok lele.
“Oh... Pasti tentang Rina lagi, kan? Kenapa? Eh, mau es jeruk, gak?” pertanyaan tanpa jeda itu menjadi suatu kebiasaan baginya. Tanpa berbasa – basi kulontarkan niatku untuk menyatakan cinta pada Rina. Dia menyetujui dan mencari tips mengenai ini di internet dan membagi padaku. Kami sepakat agar aku melakukannya minggu depan.
***
Pada hari yang dimaksud, aku sudah menyiapkan mentalku matang – matang. Aku tidak berharap kami berpacaran, karena itu adalah sebuah pelanggaran tata tertib SMA ku. Namun aku hanya ingin dia mengetahui apa yang selama ini aku rasakan, kepedihanku saat ia bertemu kak Rendi. Sekarang aku ingin meminta pendapat Olin, namun ia sedang bermain basket di lapangan. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil kertas tips menyatakan cinta yang tiga hari lalu ia print. Kubuka kertas putih itu perlahan, ternyata itu bukan kertas yang kumaksud. Kertas putih itu bertuliskan :
Aku Disini
Cerita Putri Rinamu, kunai bagiku. Mengoyak jiwa perlahan.
Cerita cinta sebelah hatimu, racun bagiku. Lumpuhkan raga seiring waktu.
Tak ingin kau dapat racun dan kunai yang sama, kubiarkan kau bagi padaku.
Kini kau buta, tak dapat bedakan warna. Kuberi kau lentera.
            Ingin kau kutuntut di pengadilan cinta. Atas dosa menghilangkan logika.
            Aku korban yang kau sandera, namun kubahagia.
            Atas penyanderaan tanpa rencana, aku berterimakasih padamu.
            Kurasakan cinta pada 15 tahun umurku, Pandu...
Jantungku berdebar kencang, aku tersadar. Selama ini terlalu sibuk dengan urusan cintaku pada Rina, tanpa kuindahkan kehadiran Olin. Inderaku tidak peka, atas gelombang perasaan yang tulus ini.
            Aku berlari mencari Olin, aku tak sabar untuk segera meraihnya. Buru – buru aku menerobos pagar pembatas lapangan hingga tak sadar bahwa lenganku memar. Kudapati Olin tengah duduk di kursi kayu merenung sendiri, ternyata ia tidak bermain basket. Kuraih segera tangannya yang dingin.
            “Olin, maafkan aku. Aku biarkan kamu sakit sendiri. Bagilah kepedihanmu sedikit padaku.” mataku berkaca – kaca. Ia tampak masih belum mengerti.
            “Maafkan aku.” Untuk kesekian kalinya aku meminta maaf pada Olin. Pada kalimat terakhir ini, kulampiaskan dengan memeluknya. Sepertinya sangat lama, karena kami tidak sadar bahwa seorang guru telah berdiri di samping kami.
Akhirnya kami masuk ke ruangan 2X3 yang paling ditakuti itu. Tapi kali ini berbeda, kami memasukinya dengan wajah senyum malu – malu.  Dan kami mendapat ganjaran skors 3 hari atas perbuatan frontal kami.
The----^__^----End

0 comments:

Post a Comment